Kebebasan Berpikir

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Kebebasan Berpikir

Date: 14-05-12 12:06

Tadinya saya berencana memberi judul kebebasan berpikir dalam konteks Islam, namun mengingat saya sudah mencanangkan (meskipun kerap gagal) untuk memaknai segala tindakan, ucapan dan pemikiran dengan nilai-nilai dan misi Islam (apa pun artinya), maka saya tulis judul seperti itu saja.

Penulisan artikel pendek ini pastinya dilatarbelakangi oleh hingar-bingar seputar penerapan kebebasan berekspresi yang didemonstrasikan oleh Irshad Manji. Hingar bingar ini mengingatkan saya kembali pada buku yang mempengaruhi pola pikir saya berjudul "Pergolakan Pemikiran Islam-Catatan Harian Ahmad Wahib," yang terbit pada awal tahun 80-an saat saya kuliah S1 di FMIPA UGM. Ahmad Wahib menpertanyakan banyak hal seputar ajaran dan tradisi di lingkungan pemeluk agama Islam.

Saya besar di lingkungan Islam abangan, mulai melaksanakan sholat 5 waktu di SMA karena pantauan sholat ini menjadi bagian dari penilaian pelajaran agama Islam di sekolah yang kemudian menjadi kebiasaan. Peribadatan lebih mengental di perguruan tinggi karena pergaulan.

Tahun pertama saya di FMIPA UGM, mungkin tahun terakhir ramenya persaingan HMI-GMNI. Saya tidak ingat bagaimana prosesnya, namun tahun-tahun berikutnya HMI mulai mendominasi persaingan itu sampai saya rasakan ada pengenduran kegiatan karena tidak ada lagi persaingan. Terasa tiba-tiba saja, jilbab yang terlihat aneh menjadi trend mainstream. Ucapan assalamualaikum menjadi sapaan sehari-hari, tidak lagi monopoli pembukaan pidato keagamaan.

Pada suatu ibadah Jum'at, saya mendengar khatib berkata: "Jangan ikut-ikutan para ilmuwan yang mendewa-dewakan sains yang mereka tuliskan sendiri." Saya tidak tahu dari mana bisa muncul sentimen seperti ini; yang jelas kita bisa menemukan banyak artikel seputar "mendewa-dewakan sains" dalam konteks negatif dan mensejajarkannya dengan syirik. Sebagai mahasiswa yang belajar di Jurusan Fisika, saya menangkap pemaham kuat bahwa para fisikawan (waktu itu, sampai sekarang, saya berpikir fisika adalah mbahnya sains) tidak pernah mendewa-dewakan sains.

Saat merumuskan fenomena alam, para ahli fisika tidak pernah melakukannya dengan memahami rumusan itu sebagai rumusan yang mewakili kebenaran mutlak. Kata kunci yang ditekankan adalah pendekatan (approximation), mereka terus mencari rumusan pendekatan-pendekatan baru dan menyambut antusias apabila ada ilmuwan lain yang bisa membuat rumusan pendekatan yang lebih baik. Cara berpikir seperti ini sangat jauh dari sikap mendewa-dewakan yang berkonotasi pemutlakan.

Bagaimana dengan para pemikir Islam? Saya mengamati banyak berpikiran bahwa atas dasar kebenaran mutlak ajaran Islam yang diwariskan pada kita oleh Nabi Muhammad dalam bentuk Qur'an dan Hadith maka pemahaman yang disampaikan para ulamanya pun punya nilai kebenaran yang mutlak. Yang sampai sekarang masih saya pikir-pikir, belum ketemu jawabnya adalah ajaran guru agama di sekolah dulu yang mengharuskan kita berpihak pada salah satu 4 madzab yang kesohor. Apa makna dari bermadzab itu? Mengikuti logika berhukumnya atau mengikuti koleksi kesimpulan-kesimpulannya?

Sebagai umat Islam yang meyakini ada petunjuk untuk melakukan segala tindakan, kita perlu belajar logika fikih sehingga dengan cepat bisa mengambil keputusan yang mendasar. Saya berharap ada teman yang bisa menuliskan kembali isi dari artikel (hasil search internet) Struktur Logika dalam Teori hukum Islam dalam bahasa yang mudah difahami umat Islam pada umumnya.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 9E54 di