Matematika jasa tumpangan mobil

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Matematika jasa tumpangan mobil

Date: 05-04-18 12:40

Pada masa promosi, grab car, uber dan go car melakukan "money politic" dengan memberi vocer discount ke penumpang dan bonus ke pengemudi. Modal besar digelontorkan untuk meningkatkan jumlah pengemudi dan penumpang. Dengan bonus, diharapkan banyak orang mau jadi pengemudi. Makin banyak pengemudi, makin mudah orang mendapatkan tumpangan. Dengan vocer diskon, makin banyak orang minat menggunakan jasa tumpangan. Makin banyak penumpang, makin cepat pengemudi memperoleh bonus.

Bagaimana dengan tarif tumpangan? Aturan dasarnya, pengelola aplikasi manajemen tumpangan memperoleh 15% dari tarif yang ditetapkan dengan perhitungan per transaksi oleh sistem, selebihnya menjadi hak pengemudi. Pada masa promosi, penumpang tidak peduli dengan tarif yang muncul karena ada diskon sehingga jasa tumpangan berasa murah. Pengemudi pun tidak begitu perhatian dengan tarif karena meskipun nilai perhitungan terlihat kecil, akan ada bonus besar setelah sekian kali tarikan.

Menjelang berakhirnya masa promosi, penumpang mulai merasakan ada kenaikan biaya jasa tumpangan karena vocer diskon tidak muncul sesering sebelumnya. Pengemudi harus bekerja lebih keras karena jumlah tarikan menuju perolehan bonus meningkat. Angka tarif mulai diperhatikan oleh penumpang (berkeberatan kalau tinggi) dan pengemudi (berharap angkanya tinggi).

Akankan taksi on-line bisa bertahan "murah"? Belum genap setahun saya menggunakan jasa tumpangan untuk pergi kondangan, ternyata sesekali mulai balik lagi bawa mobil sendiri karena tiba-tiba entah bagaimana, angka tarif yang muncul menjadi berasa terlalu tinggi. Pengemudipun mulai menuntut kenaikan hasil perhitungan tarif per transaksi karena tidak lagi bisa mengandalkan bonus untuk menutup biaya sewa/cicilan mobil.

Untuk layanan ojek, go jek ikut mebakukan yang di Jogja ada rintisannya oleh O'Jeck. Uber, gocar dan grab car menggeser moda transportasi sebelumnya yang sudah baku. Awalnya mereka beroperasi dengan model berbagi penggunaan mobil pribadi diwaktu senggang. Dalam perkembangannya, keuntungan yang dijanjikan cukup besar sehingga memunculkan ide berbisnis dengan beli mobil baru dengan angsuran atau menyewa untuk di-uber-kan. Pemasukan bulanan diperhitungkan masih lebih tinggi dari angsuran/sewanya. Ini bisa seperti MLM, sampai berapa banyak akan tetap menguntungkan?


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 7CAE di