Berdamai dengan Perubahan?

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Berdamai dengan Perubahan?

Date: 22-03-16 11:52

Dua kali Rhenald Kasali menulis ajakan berdamai dengan perubahan di koran sindo tanggal 24-09-2015 dengan judul Ekonomi Kolaborasi dan tanggal 14-03-2016 dengan judul Selamat Datang Sharing Economy. Dia mengambil contoh Go-Jek, Uber dan Airbnb yang merupakan model bisnis baru yang mempertemukan pemilik barang yang tidak dipakai sehari-hari (dalam hal ini kendaraan dan kamar tempat tinggal) dengan mereka yang memerlukan. Tambahan penghasilan bagi pemilik yang jarang menggunakan barangnya bertemu dengan penurunan perngeluaran dari mereka yang menggunakan jasa sewa. Penggunaan barang perorangan menjadi lebih efisien..

Seharusnya kita mendukung segala bentuk efisiensi. Lalu apa masalahnya? Kita belum tahu seberapa banyak orang yang memiliki kamar tidur cadangan pribadi yang layak sewa? Kita belum tahu berapa banyak orang yang memiliki cadangan kendaraan pribadi yang layak sewa. Selain itu kita juga belum tahu seberapa banyak diantara mereka yang bersediakan menyewakan milik pribadinya. Yang jelas ada dan keberadaannya mengurangi kebutuhan hotel, losmen, rental mobil dan taksi tradisionil. Bisa saja jumlahnya melebihi kapasitas hotel dan taksi trasdisionil sehingga suatu saat akan mengeliminasi bisnis hotel dan taksi tradisionil sebagaimana komunikasi elektronik praktis memusnahkan jasa surat kertas berperangko dan juga jasa bis dan angkutan pedesaan berdampak tutupnya banyak stasiun-stasiun kereta api di kota-kota kecil.

Kasus Internet tidak memberi masalah dalam urusan jasa surat berperangko karena kebetulan di masa lalu urusan pengiriman surat berperangko dimonopoli pemerintah. Demikian pula sama halnya dengan tutupnya banyak stasiun kereta api monopoli pemerintah. Keributan muncul ketika efisiensi mengakibatkan banyak orang kehilangan penghasilan. Efisiensi penggunaan jalan dengan pembukaan route bis kota mematikan operasional rintisan angkutan kota dengan banyak kendaraan kecil di area yang sama.

Berbeda dengan kasus Kantor Pos atau Jawatan Keretaapi. Airbnb dan Uber adalah produk kreativitas non pemerintah yang menghantam bisnis mapan dari kelompok masyarakat non pemerintah lainnya. Dari sisi perpajakan, keuntungan/omzet airbnb dan uber terdistribusi pada banyak orang yang sangat boleh jadi akan masuk dalam batas tidak kena pajak. Sementara perusahaan pengutip jasa matching pemilik dan penyewa akan bayar pajak pada nilai prosentase kutipannya saja, bisa saja besar sekali nilainya tapi tidak sebesar pajak yang dibayar perusahaan taksi yang menguasai armada kendaraan banyak sekaligus atau pemilik hotel ratusan kamar. Bagi pemerintah bisa saja ini berarti berkurangnya pemasaukan dari pajak, namun sekaligus berarti mengurangi biaya pemerataan kesejahteraan umum.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik F98A di