Ahmad Ikut Sholat Ied

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Ahmad Ikut Sholat Ied

Date: 12-10-07 11:10

Untuk pertamakali Ahmad ikut sholat Ied pada usianya yang ke 7. Satu hal yang menambah-nambah rasa syukur saya adalah tidak adanya penolakan pada Ahmad untuk dibawa ke keramaian orang banyak. Tahun ini kami sekeluarga ber 6 bisa pergi sholat Ied bersama. Lima menit pertama masa takbiran sebelum sholat, Ahmad bisa duduk manis (lihat foto). Pada menit ke enam dia minta jalan-jalan. Berhubung sholat belum mulai, ini tidak masalah; saya turuti saja. Ternyata Ahmad hanya ingin membuat video klip pinjam "hape babap." Ahmad tidak mau pakai HP Moto L7nya karena indikator baterenya tinggal satu dua setrip ("cas ya!" katanya minta saya ngecharge hp itu). Sebenarnya satu dua setrip di L7 itu masih bisa digunakan beberapa jam, namun Ahmad "trauma" karena dia selalu ketakutan kalau sampai alarm low battery berbunyi.

Setelah terdengar panitia mengumumkan hasil pengumpulan zakat kami kembali ke spot sajadah yang sudah dibentangkan tadi: "Kita sholat dulu yuk!" Ahmad nampak menyetujuinya setelah mengamati banyak orang dalam formasi sholat berjamaah. Mulai rakaat pertama, Ahmad terlihat terheran-heran dengan takbir yang berkali-kali. Pada takbir ke tiga dia mulai mengikuti gerakan mengangkat tangan. Pada bacaan alfatikhah, Ahmad nampak tenang mungkin karena sholatnya "normal." Pada bacaan sabihisma Ahmad mulai gelisah karena di rumah bapak hanya baca kulhu atau inna a'toina. Awal rakaat kedua, Ahmad sudah mengerti ada takbir yang berkali-kali itu untuk selanjutnya saya harus memegangina penuh karena dia cenderung meninggalkan shaf.

Alhamdulillah Ahmad bisa "menyelesaikan" sholat Ied dengan baik (untuk ukurannya). Sebagai bonus saya turuti keinginannya berjalan-jalan (kaki) keliling kampung atau tepatnya keliling asrama tentara karena routenya mengelilingi asrama tentara. Ahmad sangat menggemari acara jalan-jalan namun akhir-akhir ini kami putuskan untuk tidak melakukannya lagi karena ada kecendungan dia melakukannya sendiri alias "kabur" kata kakak-kakaknya. Kalau dituruti Ahmad biasanya mengembil router keliling ke utara jalan AM Sangaji arah ke Utara, belok kiri ke arah jalan Magelang, belok kiri terus ke arah perempatan Pingit tetapi biasanya saya hentikan dengan naik becak pulang dari Borobudur Plaza.

Kalau dibanding tahun lalu, ada banyak sekali kemajuan Ahmad yang patut disyukuri:

  • buang air besar/kecil sekarang sudah di kamar mandi. Sampai 6 tahun masih dilakukannya di celana.
  • bermain cilukba. Permainan anak batita ini menurut beberapa artikel yang saya baca merupakah tahapan penting dalam pertumbuhan sosial anak. Sebelum ini gojekan Ahmad masih memerlukan sentuhan fisik (ayun-ayun, guncang-guncang, ithik-ithik, dsb).
  • verbal muncul meskipun masih sulit namun mulai relatif mudah difahami anggota keluarga lain. Dengan demikian frekuensi frustrasi karena salah faham sudah jauh berkurang.
  • dipanggil mulai menengok dan sering mau mendatangi pemanggil; sudah ada pemahaman perintah sederhana seperti "Kecilkan !" (volume suara game atau musik), "Tutup pintu!" dan yang berhubungan dengan persiapan pergi seperti "Ganti baju!", dan "Pakai sanda!"
  • menggambar dengan komputer. Ini saya saya sebut sebagai perkembangan karena selama ini penggunaan komputer oleh ahmad sebatas main game, setting theme, open picture/music/video. Untuk menggambar dia selalu menggunakan media lantai, dinding, dan sesekali kertas.
Bila rate perkembangan setahun terakhir terus berlanjut, insya Allah Ahmad akan mampu "mengejar" ketertinggalannya dalam beberapa tahun ke depan. Saya belum berani berharap terkejar pada level usianya namun setidaknya sekarang sudah cukup PD untuk mengatakan ada masanya kelak Ahmad bisa mandiri. Insya Allah.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 9418 di
  • 6. Damar

    subhanallah. semoga allah meninggikan derajat pak pras sebagai hamba yang disayangi dengan di beri amanah melalui adik ahmad.

    08-07-08 09:02
  • 5. prastowo

    Iya... makasih banget mas Arizt. Saya berkeyakinan pada tiap keluarga atau diri kita sendiri punya tanggungjawab masing-masing dan Allah tidak akan memberi beban melebihi yang dapat kita tanggung.

    06-11-07 08:26
  • 4. arizt

    lanjutan..
    Mungkin kedekatan kakaknya jauh lebih memberikan dampak. Dua kali aku ketemu ahmad pas dirumah pak pras. kayaknya ais (kakaknya) kurang memberikan kebebasan saat aku mo ngobrol banyak sama ahmad. tapi pendekatan yang diberikan ais ama ahmad sudah bagus menurut saya. http://www.aris-elektro.web.ugm.ac.id

    06-11-07 08:49
  • 3. arizt

    insya allah ahmad akan mengalami perkembangan yang lebih baik,mungkin bisa sholat, ngaji, baca quran,dll. Tinggal membiasakan dirinya dengan hal2 seperti itu. Kebetulan aku pernah ngajar TPA yang disitu ada anak autis.awalnya anaknya cenderung tidak bisa diam saat temennya duduk, tapi lama kelamaan ia bisa mengikuti temen2nya untuk baca iqro' meskipun hanya sebatas menghafal huruf a, ba, ta,.. tapi paling tidak ia bisa memiliki keinginan, misalnya temen2 diajarin mbaca kok dia tidak. dia lalu protes nanya ke pengasuh... Tapi mungkin aku bukan orang yang cukup sabar dalam mendidik anak tidak seperti anda.mungkin anda bisa jauh lebih baik dari itu. ikutkan aja di TPA tentunya didampingi sama Ais misalnya. Minta aja ais untuk ikut menjadi pembimbing TPA trus ahmad ikut ngaji disitu seperti yang dilakukan tetanggaku.

    06-11-07 08:44
  • 2. agfianto

    satu kata saja...
    alhamdulillahirobbil'alamin....
    Ahmad sudah bisa diajak sholat ied... semoga di masa mendatang bisa banyak kemajuan, amin...

    22-10-07 01:29
  • 1. Eko SW

    Pak Pras sabar sekali ya...

    Mengharukan...

    Smg semakin bahagia dik Ahmad. Smg kapan2 bs ketemu....

    Titip salam & cium u/ dik Ahmad

    18-10-07 08:47