Memahami perbedaan awal bulan puasa/hari raya

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Memahami perbedaan awal bulan puasa/hari raya

Date: 05-07-12 08:14
Dari status saya di Facebook:
Tulisan ini mengulang komentar saya pada tayangan foto astronomi pak Djoko Luknanto. Saya baru meraba-raba ilmu falaq melalui tulisan-tulisan pak Thomas Djamaluddin. Yang saya tangkap, singkat cerita, sejak dulu juga kalender tetap untuk tahun-tahun mendatang pada dasarnya bisa dibuat dengan perhitungan astronomi yang insya Allah akurat.

Masalahnya sekarang berkembang 2 kriteria matematis sebagai dasar cut off definisi bulat terlihat: imkan rukyat dan wujudul hilal. Kalau mau selalu bareng, kita harus sepakat pakai kriteria yang mana. Pak Thomas bersikukuh kriteria wujudul hilal kurang sip. Praktisnya, kriteria ini (yang dipakai Muhamadiyah dan sepertinya juga teman-teman Saudi) akan sering mengundang perbedaan dengan rukyat. Berhisab dengan kriteria imkan rukyat kebih safe.

Konsekuensi perbedaan kriteria cut off matematis (yang keputusannya dihakimi oleh kalkulator) untuk penanggalan sangat berbeda dengan perbedaan kriteria untuk waktu sholat asar misalnya. Untuk waktu sholat, perbedaan kriteria akan berakibat selisih waktu azan barang beberapa menit. Sampai 15 menit pun kita masih bisa menunggu. Sebagai penentu penanggalan, adanya perbedaan kriteria, dengan input posisi bulan dengan perbedaan dalam hitungan detik bisa memberi output perbedaan tanggal, yang berarti berselisih 24 jam.

Mas Graifhan Ramadhani mengingatkan mau pakai metoda hisab yang mana ya silakan dikaji terus tapi pastinya harus konsisten proporsional jumlah hari dalam tiap bulan puasanya. Jangan milih-milih kriteria untuk awal dan akhir Ramadhan sedemikian hingga selalu 29 hari. Keputusan spiritual saya saat ini adalah berkonsisten pada saudara-saudara disekitar tempat tinggal saja. Kalau di masjid sudah mengumumkan mengadakan sholat tarawih, ya saya mulai puasa paginya. Kalau di masjid sudah takbir, ya pastinya besuknya ikut sholat Ied. Saya memang gak pernah mengingat-ingat puasanya 29 atau 30 hari.
===============
Berikut komentar yang muncul di fb sampai dengan tulisan ini dipostingkan:

Muhammad Abdillah: Saya mau menanya Pak, saya pernah dengar saat zaman soeharto, Muhammadiyah menggunakan kriteria hilal 3 derajat di atas ufuk dinilai sebagai bulan positif sehingga besoknya sebagai awal bulan, akan tetapi sekarang Muhammadiyah menggunakan kriteria hilal kurang dari dua derajat di atas ufuk tetap dinilai sebagai bulan positif sehingga besoknya tetap sebagai awal bulan..Apakah benar, Pak seperti itu? Terimakasih..
11 hours ago · Like

Thomas Djamaluddin: Muhammadiyah secara tegas menggunakan wujudul hilal sejak 1969. Pada waktu itu hisab imkan rukyat belum banyak berkembang. Sampai awal 1980-an saat saya mulai terlibat dengan hisab rukyat di astronomi ITB (sambil belajar dari ahli hisab di UNISBA) hanya hisab wujudul hilal yang digunakan. Tetapi mulai 1990-an mulai berkembang hisab imkan rukyat secara astronomis, termasuk menjadi bahan skripsi astronomi ITB.
11 hours ago · Like

Bambang Nurcahyo Prastowo: Saya tidak tahu. Bisa saja begitu. Coba saja simak batas-batas penanggalan bulan internasional hasil perhitungan matematis. Batas itu tidak lurus dan bergeser dari waktu ke waktu. Kadang kita beruntung seluruh wilayah Indonesia masuk di zona aman. Tapi sering juga batas itu memotong atau nyerempet wilayah Indonesia. Perkembangan pemahaman bisa saja mengakibatkan penyesuaian keputusan.

Pertanyaan berikutnya seberapa luas wilayah pemukiman yang layaknya berlebaran pada tanggal masehi yang sama. Pastinya tidak bisa berlaku diseluruh permukaan bumi karena ada wilayah tertentu yang dalam jarak relatif dekat pada hari yang sama berselisih tanggal penanggalan masehi.
11 hours ago · Like

Bambang Nurcahyo Prastowo: Wah... pak Thomas mampir di status saya. Pertanyaan mas Muhammad Abdillah sudah dijawab ahlinya. Terimakasih.
11 hours ago · Like

Haru Cahyadi · Friends with Thomas Djamaluddin
Yg sy tau dari sejarah MD prof, sblm menggunakan WH, muhammadiyah trlebh dahulu menggunakan IR, nah nnti thn 69 MD ganti dgn WH
11 hours ago via mobile · Like

Muhammad Abdillah: Pak Haru Cahyadi : Kenapa MD tidak konsisten?
10 hours ago · Like

Bambang Nurcahyo Prastowo: Weh... ini masalah keilmuan biasa, pemahaman bisa berkembang sejalan dengan pertambahan pengetahuan. Meskipun mungkin terasa bizarre... tapi saya setuju dengan perkataan pak Jazi Eko Istiyanto bahwa kita memang perlu berpegang teguh konsisten dengan prinsip yang dianut tapi bisa saja prinsip itu berubah.
10 hours ago · Like

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik E434 di