Linux for Human Beings

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Linux for Human Beings

Date: 26-03-07 08:15

Berawal dari pencanangan UGM Goes Opensource yang dimulai dari PPTIK UGM. Ibu Susi Daryanti membeli komputer notebook Linux. Pilihan jatuh pada ION Portivia D12. Meskipun tidak super ringan, komputer cantik mungil berwarna putih ini punya kemampuan cukup besar dan berpenampilan menarik.Dengan body lebih tipis, Portivia D12 berlayar 12" yang lebih lebar dari Fujitsu P5020 sehingga lebih nyaman untuk mata 45 th ke atas. Pada dasarnya Portivia ini bukan lah komputer Linux. Kondisinya penjualannya masih kosong tanpa sistem operasi saat dikeluarkan dari boxnya.

Karena diminta Linux, penjual mengisinya dengan Mandriva. Setelah dicoba-coba, Bu Susi tidak menyukainya karena ada masalah dengan wifi. Penasaran dengan notebook ini, saya mencoba "membantu" mengisinya dengan Fedora Core 6. Distro ini tidak bisa terpasang lengkap dengan mengikuti langkah-langkah next yesnya. Untuk menghidupkan WIFInya kita harus mengisi sendiri /lib/firmware yang diambil dari Internet (Portivia D12 menggunakan IPW2200). Demikian pula untuk membunyikan lagu mp3, kita harus pasang sendiri xmms-mp3.

Tidak sabar dengan dengan proses bolak-balik untuk penambahan fitur-fitur yang diinginkan, Bu Susi membawa laptop barunya ke Pak Hanan. Kisah seanjutnya baca Berjibaku-dengan-Laptop-demi-UGOS. Pak Hanan memilih Ubuntu Dapper LTS (6.06) untuk menggantikan FC6 yang sudah terpasang. Tidak ada alasan yang jelas mengapa Ubuntu, mengapa bukan Open SuSE misalnya? Catatan Pak Hanan di weblognya menunjukkan bahwa Ubuntu bisa masuk dengan mudah termasuk wifi dan mp3 playernya ke notebook itu.

Sejak pertama kali muncul, saya punya kesan kurang baik pada Ubuntu. Saya merasa distro ini punya sifat drop-drop-an seperti yang terjadi pada pengembangan distro Debian yang akhir akhir ini tersendat.Konon Debian "macet" gara-gara ide fund raising untuk membayar full time maintainer. Model gaji pada orang tertentu ini konon menimbulkan rasa kurang nyaman pada kontributor Debian lain yang selama ini telah mencurahkan tenaganya tanpa dibayar.

Saya tertarik dengan slogan Ubuntu:"Linux for Human Being" yang membuat saya, pengguna non Ubuntu jadi merasa kurang sebagai human being. Penasaran dengan distro yang direkomendasikan Pak Gofur dan Pak Dendy (Kepala Bidang Komunikasi dan Kepala Bidang Informasi PPTIK UGM) ini, saya mengambil keputusan untuk memasangnya di komputer Fujitsu P5020 yang biasa saya pakai. Kebetulan external hardisk yang sering saya bawa-bawa tidak pernah diisi lebih dari satu dua puluh giga (ukuranny 100 giga). Agar safe, hardisk yang memuat distro FC5 tersebut ditukan dengan external hardisk. Saat ini saya mengoperasikan P5020 dengan hardisk berkapasitas 100 Giga dengan sistem operasi GNU/Linux Ubuntu. Untuk mendapatkan file-file lama, hardisk FC5 dimasukkan dalam kotak external hardisk.

Ada beberapa catatan yang saya anggap penting dari pengalaman ini.Pertama saya baru menyadari bahwa jarak pandang komunitas pengguna sistem operasi Linux dan sistem operasi Windows jauh lebih lebar dari yang saya bayangkan sebelumnya.Sebenarnya isu ini sudah muncul 4-5 tahun lalu (tahun 2002-an; baca paper-paper pada blok SEMINAR di website ini). Pada waktu itu semangat 45 saya berusaha meyakinkan sekuat tenaga pada khalayak bahwa penggunaan Linux sama mudah(sulit)nya dengan penggunaan Windows (anak saya Ahmad yang autistik tidak mempedulikan sistem operasi komputer yang digunakannya). Yang tidak saya duga sebelumnya adalah beratnya syarat yang ditetapkan pengguna Windows pada Linux agar mereka mau bermigrasi.

Sahabat saya Pak Eko Nugroho memilih untuk login root ketika "dipaksa" menggunakan Linux.Dia ingin tetap mempertahankan freedom sebagai superuser dari komputer yang digunakannya sebagaimana selama ini dia rasakan pada pemakaian sistem Windows. Ketika saya sampaikan ke Bu Susie bahwa aplikasi bawaan Windows hanya file dan web browser serta wordpad saja, beliau membantah karena kenyataannya menurut pengalaman, pada setiap pembelian PC, kita sudah dapatkan segala macam program aplikasi mulai Office sampai statistik dan cad drawing. Ini sudah mendekati apa yang didapat dengan install everything di Linux.

Pada suatu seminar saya pernah tunjukkan bahwa aplikasi GUI setting peripheral di Linux sudah sama mudah(sulit)nya dengan Windows. Ternyata saya bohong. Artikel The Luxury of Ignorance: An Open-Source Horror Story menyadarkan saya bahwa arogansi komunitas opensource telah mengabaikan satu aspek penting bagi pengguna Windows karena dianggap sebagai sumber masalah security. Catatan di weblog Eric Raymond tersebut menunjukan contoh yang bisa saya ikuti bahkan di "Linux for Human Beings" yang sedang saya pakai ini. Ternyata saya mengalami hal yang sama dengan Eric yakni mencoba ngeprint dari notebook ke printer yang terpasang di Desktop.

Saat ini saya menggunakan komputer notebook Fujitsu P5020 dengan sistem operasi Linux Ubuntu Dapper LTS (6.06). Dirumah ada PC desktop yang running dengan sistem operasi Linux Fedora Core 6 yang Window Managernya dilengkapi dengan kosmetika dari Beryl Project (anak-anak sangat menyukai ini). Komputer desktop tersebut dilengkapi dengan printer Epson Stylus C45 bertinta infus (kalau sudah terpasang dengan benar, sistem infus ini menyenangkan karena refil tintanya cukup menuangkan ke botol infus, tidak perlu lagi tetes menetes atau suntik menyuntik).Bagaimana saya bisa menggunakan printer itu tanpa harus pindahkan kabel USB? CUPS memberi jawaban tuntas. Betulkah? Menu System->Administration->Printing dan klik dobel pada New Printer memunculkan window Adda a Printer. Bagian Printer Type memberi pilihan Local Printer atau Network Printer. Pilihan yang masuk akal. Namun setelah klik Network Printer, kita diminta memilih: IPP, SMB, LPD, atau HP JetDirect. Di satu sisi pilihan ini menunjukkan kehebatan CUPS dalam menangani berbagai macam protokol printing (Windows versi lama mungkin hanya support SMB), di sisi lain banyak user bahkan dari kalangan penggemar opensource sendiri tidak tahu harus memilih apa. Cerita selanjutnya baca weblog Eric.

Penutup, sementara ini kerja migrasi ke opensource masih harus melibatkan lembaga pendamping penuh untuk melakukan trouble shooting selama paling tidak satu dua perioda tahun anggaran atau sampai didapat cukup pengguna mahir di lingkungan institusi yang bermigrasi tersebut. Disamping itu, para pahwalawan analis dan programer produk opensource harus lebih mencurahkan perhatian pada kemudahan instalasi dan pemakaian sistem tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keamanan yang telah menjadi tradisi dari pengembangan sistem opensource.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 3B12 di
  • 15. gilang lebak

    om kalau buat posting sedikit variasi NGAPA..!!!

    BACANYA MUALES......
    .....YANG BUKA NGANGA......
    PANJANG BGT SECH...

    05-04-08 11:08
  • 14. Prastowo

    Pada dasarnya, kita tidak perlu melakukan apapun untuk konfigurasi dasar web server di Ubuntu selain instal paket programnya. Bawaan Ubuntu menempatkan document root di /var/www
    Untuk konfigurasi tingkat lanjut seperti virtual host, suexec dan sebagainya mengikuti petunjuk Apache.

    30-10-07 01:06
  • 13. Yesaya Budi handoyo

    komputer kantor saya pakai windows, sedangkan saya pada PC linux fedora 4 dengan printer epson lx300, pertanyaan saya, bagaimana caranya agar PC windows tersebut dapat e print di PC Linux saya,...sebagai catatan untuk jaringannya sudah "OK"....selama ini saya hanya dapat info cara linux yang e print di windows, tapi kalau kebalikannya gimana caranya, trims...

    14-08-07 10:09
  • 12. upsz_vita@yahoo.com

    aku mo tanya boleh ga?
    aku mo tanya tntg konfigurasi web server pada linux ubuntu gmn c?

    terima kasih...
    nama saya puspita
    email saya upsz_vita@yahoo.com

    05-07-07 10:25
  • 11. Prastowo

    Buat Mellisa, klik saja link "the Luxury... " itu. Pada dasarnya CUPS sangat mudah digunakan untuk berbagai akses printer asal berada dibawah lingkungan jaringan yang mendukung. Salah satu hal yang menghalangi sharing printer adalah firewall. Pastikan port-port yang digunakan CUPS tidak tertutup.

    26-06-07 11:23
  • 10. mellisa

    pak bambang, saya ingin menanyakan bagaimana caranya men-set sharing printer. Di blog anda, dituliskan adanya weblog eric raymond. Kalau saya bole tau bagaimana saya mengakses weblognya?? bisa diberi tau alamatnya?? karena saya sudah mengobrak-abrik web, dan coba-coba cuman hasilnya NIHIL. sekian terima kasih....saya harapkan jawabannya

    26-06-07 09:29
  • 9. monica septa nia

    saya ingin mengetahui isi dari distro debian antara lain?berapa versi terakhir distro debian.,sapa pembuat debian,dimana situs debian,apa saja fitur distro debian,bagaimana debian digunakan,berapa macam debian,informasi debian yang terkait.

    25-04-07 10:21
  • 8. prastowo

    Ubuntu itu kan "Linux for Human Being." Yang non human being bebas untuk menentukan distronya sendiri. Terus terang saat ini saya rindu FC5. Di desktop rumah yang ada vga driver nvidianya, saya pasang FC6 dengan window manager beryl. Wah lucu tenan. Anan-anak sanget menyukainya. Saya masih bertahan di Ubuntu karena masih memerlukan sarana untuk belajar fitur-fiturnya apabila ada user Ubuntu perlu bertanya.

    19-04-07 02:00
  • 7. [widiHandoyo]

    Wah, pak, saya tetap cinta dengan yang namanya Fedora, dach coba dari mulai FC1, FC2, FC3, FC4, FC5, dan yang terakhir FC6, semuanya full bisa dipake untuk mendukung kerja dan kuliah saya kok, printing, tv tuner, mp3, movie segala macam format, web server, java, programming, emulator, ngenet pake Fren, transfer data dari PC ke HP, semuanya ok2 aja kok, cuma butuh keteltian dan kesabaran untuk melakukan konfigurasi dan mencari-cari resources dari internet. Pengalaman install tv tuner baru bisa on setelah googling dan utak-atik 1 bulan, printing juga getoo (Canon pixma ip1200). Lagian Fedora paket2nya banyak dan uptodate, dikembangkan oleh banyak orang dan variasinya banyak...VIVA FEDORA CORE!!! widiHandoyo

    19-04-07 12:11
  • 6. lufty

    wah, pak agfi mana concern ke system ... beliau malah pernah bilang "kimputer itu tools" ... ya jelas gak peduli donk .... wajar

    13-04-07 11:23
  • 5. prastowo

    Buat teman-teman yang menggunakan Ubuntu, silakan edit file /etc/apt/sources.list untuk mengganti semua sumber instalasi/update dengan kambing.ui.ac.id agar updatingnya dapat dilakukan dengan cepat.

    05-04-07 09:23
  • 4. bhina

    pengguna GNU/Linux non Ubuntu = Super Human pak he3

    01-04-07 02:35
  • 3. Eko SW

    • OOT * Tadi waktu ngurus2 admin di MIPA SELATAN, denger pak Agfi ngebanyol gini : "Linux kok namanya Usus Buntu" )

    Btw, saya suka Ubuntu. Karena DVD Reponya lengkap.

    Cuman itu aja

    Kalau faktor tech atawa filosofi yang lain, enggak begitu merhatiin.

    Kecuali nih, Redhat pnya DVD Repo 10 Keping misalnya.
    Phew, .....

    28-03-07 05:03
  • 2. m00nray

    wah, kok saya bacanya bingung ya pak
    antara bahasan awal dan akhir kok agak sedikit gak nyambung atau melebar dari judul?Soalnya alur nya melebar dari bahasan awal yaitu linux ubuntu tiba tiba ke migrasi opensource
    terus kesimpulan dari pemakaian linux for human being nya gimana pak?
    dan masalah printer di ubuntu yang baru diinstall itu bagaimana?
    hehehehe....

    28-03-07 08:19
  • 1. Eko Nugroho

    ya memang filosofi WINDOWS adalah bahwa Windows adalah sebagai OS for PC (Pengguna tunggal/ personil komputer) maka setiap user sebenarnya adalah superuser (dalam bhs Linux), maka ketika pemakai Windows diajak bermigrasi ke Linux yang ber akar pada dunia jaringan/grup maka seringkali ex windower menjadi "kagok" karena di Linux kekuasaannya sbg superuser banyak di preteli ketika dia beroperasi sebagai hanya user biasa di Linux. Perbedaan filosofi PC (pengguna tunggal) dan pengguna grup / Jaringan di Linux inilah yang perlu disadari oleh para migrant.

    27-03-07 12:42