Dahlan Iskan, Jokowi, Whatsapp dan Minyak Tawon

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Dahlan Iskan, Jokowi, Whatsapp dan Minyak Tawon

Date: 20-03-14 02:57

Biasanya saya mengatasi masalah gigitan serangga dan sengatan lebah dengan olesan minyak Tawon hasil rekomendari dari teman. Sebaran produk ini sepertinya sangat bagus. Boleh dibilang semua keluarga yang saya kenal punya persediaan minyak Tawon di rumahnya meskipun tidak beriklan di TV. Ini menarik karena banyak produk minyak gosok yang gencar diiklankan di TV dan hasilnya biasa-biasa saja.

Sekarang saya menyelesaikan banyak urusan dengan berkomunikasi melalui Whatsapp, sistem group chat yang dikenalkan ke saya oleh staff PPTIK (sekarang PSDI) UGM beberapa tahun lalu. Awalnya hanya coba-coba saja membuat group chat kecil untuk keperluan penanganan pengaduan masalah ICT kampus. Ternyata, tanpa disadari hampir semua nomor telpon yang muncul di daftar kontak hp ada icon whatsappnya. Ini menarik karena saya belum pernah melihat iklan Whatsapp di TV. Sementara itu tidak satupun sistem group chat yang gencar diiklankan di TV aktif saya gunakan.

Jokowi saya kenal ketika ada teman yang share link Youtube yang menayangkan dia sedang ceramah menjelaskan bagaimana proses pendekatan pada kelompok kakilima yang hendak direlokasi. Saya terkesan karena dalam ceramah itu dia menjelaskan proses secara runtut dan menyeluruh termasuk mempersiapkan lokasi yang dikaitkan dengan pembukaan route kendaraan umum baru untuk menjamin tetap adanya kerumunan. Ternyata sharing video Jokowi terus bermunculan dari teman-teman yang berbeda termasuk video-video rapat pemerintahan DKI. Ini menarik karena saya belum pernah lihat iklan TV yang menampilkan sosok Jokowi sementara banyak politisi yang secara khusus membuat iklan TV tentang diri masing-masing.

Saya mengenal Dahlan Iskan dari link blog seseorang yang menayangkan tulisan-tulisan dahlan Iskan di koran. Ternyata sharing link tulisan Dahlan Iskan yang mengungkap berbagai persoalan dan langkah-langkah penyelesaiannya terus bermunculan dari teman-teman saya. Yang menarik dari tulisan-tulisan DI adalah kebiasaannya menyebutkan teman-teman yang membantu menyelesaikan masalah terkait. DI muncul di iklan TV, tapi ketertarikan saya bukan pada iklan itu melainkan pada tulisan-tulisannya.

Saya termasuk orang yang ikut merekomendasikan obat oles minyak Tawon dan aplikasi group chat Whatsapp ke teman-teman semata-mata karena saya merasa ada bagian dari kehidupan saya yang dimudahkan oleh kehadiran produk minyak dan aplikasi group chat itu. Saya juga sharing beberapa video Jokowi dan tulisan Dahlan Iskan karena merasa video dan tulisan itu membantu mencerahkan sebagian dari berbagai keruwetan di masyarakat yang pernah saya pikirkan. Yang menarik dari karya publikasi Jokowi (via youtube) dan DI (via artikel koran) adalah muatan deskripsi permasalahan yang disertai langkah-langkah penyelesaikan yang dilakukan. Sangat boleh jadi itu langkah yang salah, atau langkah yang mahal tetapi masyarakat (saya) suka karena melihat mereka bekerja.

Apa hubungannya? Minyak Tawon dan Whatsapp disukai dan direkomendasikan karena terbukti bekerja baik. Bisa saja kalau dilakukan uji produk akan kalah mutu dari produk lain tetapi bukti kerjanya membuat masyarakat pengguna bertindak sebagai agen pemasaran tanpa dibayar. Bisa saja kalau dilakukan fit and proper test, secara individu Jokowi dan Dahlan Iskan kalah kualitas dengan orang lain tetapi paparan Jokowi dan Dahlan Iskan tentang kerja mereka sudah cukup bagi pembacanya sehingga merasa ada manfaatnya untuk menyebarluaskan paparan itu ke orang lain.

Kesimpulannya: kalau kita menemukan ada seseorang yang pantas dan mampu menjadi presiden, paparkanlah karya-karyanya; karya yang memerlihatkan sosok yang bekerja terus menerus secara konsisten. Paparan konsep semisal: kita perlu mengentaskan kemiskinan, Indonesia Hebat, kita mampu, brantas korupsi dsb sudah banyak. Yang belum banyak adalah paparan apa yang dilakukan seseorang untuk mencapai itu. Kick Andy sudah memulainya. Tinggal meneruskan publikasi langkah-langkah kerja tokoh-tokoh Kick Andy secara kontinue agar masyarakat semakin mengenal mereka.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 58C2 di
  • 1. Damar Sandi Wicaksana

    Artikel yang menarik. Terimakasih sudah mengulas tentang Abah kita, Dahlan Iskan.

    Salam dari Semarang.

    27-03-14 08:50