Visual Smart Transaction Authentication

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Visual Smart Transaction Authentication

Date: 18-07-17 01:40
Salah satu aspek penting dalam penggunaan sistem informasi adalah otentikasi pengguna yakni memastikan suatu tindakan/transaksi dilakukan oleh orang yang identitasnya masuk dalam catatan/log tindakan itu. Ini menyangkut pembatasan hak melakukan tindakan tertentu pada orang tertentu saja.

Proses otentikasi dilakukan dengan menunjukkan kepemilikan barang tertentu seperti kartu anggota ber RFID dan biometrik (sidik jari, foto wajah, pola iris mata, dsb) serta bukti yang bersangkutan mengetahui suatu rahasia yang tidak diketahui orang lain (biasanya disebut password).

Dalam konteks implementasi smart city, penggunaan rfid dan biometrik menjadi sangat mahal karena reader rfid dan biometrik relatif rumit serta banyak versinya. Jumlah yang harus dipasang sangat banyak. Keputusan mengubah suatu versi karena masalah keamanan atau penambahan fitur bisa mengakibatkan bongkar pasang peralatan dan pergantian kartu identitas secara menyeluruh.

Mahalnya peralatan yang harus dipasang di banyak tempat menghambat implementasi yang berguna. Sampai sekarang saya belum menemukan titik layanan yang memanfaatkan sisi elektronik dari KTP-el. Semua yang saya dapatkan masih mengandalkan sisi data tercetak di kartunya (untuk difotocopy). Manfaat belum didapat, korupsinya sudah jalan duluan.

Terinspirasi dari video visioner supermarketnya Jack Ma, saya usul ke depan sebagai alternatif dari KTP-el tradisionil, kita bisa menyimpan KTP dalam bentuk aplikasi smartphone (bagi yang memiliki). Antar muka komunikasi dengan titik layanan tidak dengan NFC/RFID (yang rentan perbedaan versi/protokol) tapi dengan visual display barcode/qrcode yang dibaca dengan kamera yang relatif murah dibanding RFID/biometri reader. Karena protokol diselenggarakan oleh software, maka upgrade sistem tidak harus diikuti dengan upgrade hardware.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 6300 di