Liburan yang melelahkan

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Liburan yang melelahkan

Date: 30-12-08 02:13
Liburan Natal tahun ini keluarga kami mendapat undangan menginap di salah satu Vila Laut Biru milik PT IKPT di Anyer. Hari Sabtu ada acara reuni teman-teman asrama Al-Hidayah di ruang pertemuan kompleks Laut Biru tersebut. Acara di Anyer biasa-biasa saja hanya ada kolam renang vila yang saya sendiri tidak menikmatinya karena takut air. Sementara lautnya tidak beda-beda amat dengan Parangtritis dan Baron. Yang seru adalah perjalanannya.

Tahun lalu, Al Hidayah reonian di Jogja. Banyak teman-teman dari ujung Barat dan ujung Timur pulau Jawa yang datang. Bahkan ada teman yang sudah mukim di Australia pun datang. Dibujuk istri, akhirnya saya setuju untuk berlibur sekeluarga ke Anyer; apalagi ada teman yang sudah menyewakan Vila (sebagai karyawan IKPT katanya murah, tapi tidak bilang berapa saat kami tanya).

Berangkat dari Jogja hari Kamis malam jam 23:00 tepat melewati jalur Selatan setengah jalan terus ke Utara lewat Bumiayu-Prupuk. Ternyata capek juga jalan malam. Biasanya saya bisa santai kalau driving ke Malang; mungkin karena sebelumnya belum pernah ke Barat, sepanjang jalan saya was-was juga kalau tersesat. Alhamdulillah amunisi kompas dan peta cukup kuat. Sebenarnya da GPS di E71 saya, tapi tidak bisa berkutik sama sekali. Pertama, untuk dapat sinyal awal GPS harus keluar mobil. Kedua, setelah dapat pun, indikator tidak bisa mengikuti perjalanan mobil. Ketiga, detail informasi masih kalah jauh dari peta kertas (saya harus main zoom in zoom out secara presisi untuk lihat info lokasi).

Istirahat pertama disekitar Bumiayu (sudah agak terang). Kami beli pop mie san sholat subuh di situ. Setelah itu bergerak menyusuri sungai di daerah yang di peta mudik disebut Prupuk. Setelah itu menyusuri jalur pantura sampai ketemu Tol Kanci yang bisa digunakan menghindari Kota Cirebon. Lumayan, setelah jalan berkelok-kelok dan sesekali banyak lubang, ada jeda sekitar 28km melewati jalan relatif lurus dan mulus. Ternyata jalan tol itu seperti penyihir yang menyuruh kita jalan cepat. Sempat melirik meteran, tidak terasa mobil jalan 120km/jam.

Kembali menyusuri pantura, akhirnya sampai ke gerbang tol Cikampek. Kami istirahat agak lama di rest area sekitar km 13.5 tol Jakarta-Merak sekitar jam 13:00; masih sempat medengar sayup-sayup khatib Jum'at membaca doa penutup kuthbah. Keluar di exit Cilegon Barat, perjalanan dilanjutkan melalui jalan raya Anyer. Jalan ini secara umum cukup baik tetapi ditempat-tempat tertentu, sangat boleh jadi karena kawasan industri, bisa ditemui lubang-lubang yang cukup membuat mobil-mobil harus berjalan seperti ada kemacetan. Akhirnya ketemu juga Vila Laut biru... ternyata dari exit Cilegon Barat masih cukup jauh juga.

Alhamdulillah, perjalan ke Barat berakhir jam 3 sore. Tidak ada kejadian istimewa. Ahmad enjoy perjalan, tidak mabuk seperti biasa. Tinggal, ngantuknya yang nggak ketulungan tapi sudah terlanjur kancilen; susah juga bisa tidur pules.

Vila Laut Biru ternyata bagus menurut ukuran keluarga Bambang Prastowo. Ahmad langsung berenang (tepatnya main air di kolam dangkal). Vila 2 kamar ini dilengkapi dengan dapur dengan perabotan yang lengkap. Kami sebenarnya sudah membawa persiapan cukup (kompor, panci dsb.) tapi yang terpakai hanya pancinya saja karena yang disediakan ukurannya terlalu besar.

Sore itu saya dan gadis-gadis sempat main ke pantai melihat sun down yang tidak kelihatan karena tertutup awan. Namun demikian, suasana senja cukup asri. Matahari ternggalam di arah sejajar arah tebing karang yang memberi siluet karang dan pepohonan diatasnya terlihat indah.

Di mana pun, pantai selalu indah. Sayang tidak ada kesadaran dari para pengunjung untuk menjaga kebersihan. Nampaknya pengelola pun tidak cukup banyak menyediakan tempat sampah sehingga plastik-plastik bekas kemasan minuman dan makanan instant lainnya dibuang begitu saja di hamparan pasir pantai.

Hari Sabtu saya ajak Ais, Asma, dan Tika ke tempat wisata Karang Bolong. Suasana alam sedikit banyak mirip Pantai Baron seperti yang saya ingat (lihat foto utama artikel ini). Meskipun sudah beberapa jam di pantai hari sebelumnya, tetap saja anak-anak tidak jemu-jemu duduk-duduk memandangi laut. Yang tidak kalah menariknya adalah keberadaan pohon-pohon tua yang nampak masih alami meskipun di sana-sini telah diatur untuk memudahkan kita memanjat. Di area taman wisata Karang Bolong terdapat kolam renang berbayar dan arena bermain anak, namun kondisinya sudah tidak menarik atau memang tidak menarik sejak awalnya. Sebelum balik ke tempat penginapan, saya sudah janjikan pada anak-anak untuk mampir berwisata kuliner. Ada beberapa warung ikan bakar di sekitar tempat parkir. Kami pilih yang kelihatan paling luas. Tika minta udang, Ais minta ikan, Asma pilih cumi. Semua kita pilih menu masak bakar. Kata yang jual semua dibumbui acar kuning. Meskipun relatif mahal (Rp. 40.000,--/porsi; dengan nasi sebakul, lalap, sambal dan minuman total habis Rp.170.000,--), anak-anak nampak puas makan, terbukti habis banyak. Kalau pakai skala pak Bondan, barang kali sudah mencapai nilai cantik, tetapi belum mak nyus.

Balik ke Vila, teman-teman peserta reuni sudah berdatangan. Anak-anak memilih masuk kamar tiduran meskipun sebenarnya ada anak-anak lain sebaya yang ikut hadir. Saya jaga Ahmad di kolam renang sambil menikmati asinan oleh-oleh salah seorang peserta reuni. Eva ikut pertemuan.

Untuk perjalanan pulang dari Anyer, Pak Puncak (nama kepala keluarga yang mempersilakan kami tinggal di vila yang dia sewa) sudah wanti-wanti kalau belokan menuju ke tol Jalarta tidak dilengkapi dengan petunjuk yang jelas. Harus waspada setelah berarkhirnya kawasan industri langsung saja belok kiri tidak usah cari-cari petunjuk jalan. Kenyataanya kami memang tersesat masuk kota Cilegon. Memang aneh, sepertinya unsur kesengajaan dari pengatur lalulintas untuk membiarkan mereka yang baru pulang dari taman wisata Anyer "tersesat" masuk kota sebelum bisa menemukan jalur ke tol Jakarta. Kenyataannya memang ada teman lain yang tersesat juga di situ.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, kami mampir ke rumah teman di BSD Serpong. Eva dan anak-anak bersama keluarga tuan rumah menyempatkan diri mampir ke Ocean Park di kawasan itu. Saya tidur persiapan jalan malam.

Pulang dari Ocean Park, Ahmad ribut tidak mau turun dari mobil. Maunya langsung pulang ke Jogja. Sedih juga melihat Ahmad rewel. Tapi ada senangnya, ternyata dia faham perjalanan. Buktinya sempat mengetikkan Jogja di alpha linknya sebagai ungkapan keinginan segera pulang je Jogja. Minggu Jam 8 malam kami berangkat dari Jakarta. Saya putuskan lewat pantura murni (tidak sambung jalur Selatan).

Tidak ada hal istimewa terjadi, hanya geli saja membaca petunjuk "Masuk Jalan Tol Cirebon-Semarang" yang ternyata hanya jalan melingkari kota cirebon saja. Selebihnya tetap saja lewat Tegal, Pemalang, dst. Di sekitar Tegal (jam 2-an) sempat berhenti di pom bensin satu jam. Pak sopirnya tidur dulu karena pandangannya sudah kabur akibat kantuk luar biasa. Sebelum Batang, kami sholat subuh dan mbakso di SPBU. Menjelang masuk Semarang juga ada petunjuk "Masuk Jalan Tol Semarang Jogja/Solo." Wow! Ternyata jalan tol ini berarkhir di Ungaran, tetangga dekat Semarang. Yang agak menakutkan, saat berada di Tol, udara berkabut cukup tebal. Agak susah melihat garis-garis batas jalan. Akhirnya jalan super lambat menunggu ada mobil lain nyalip, baru mengikutinya dengan jarak agak dekat.

Alhamdulillah, kami sampai rumah jam 10:00 pagi. Mandi terus tidur.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 7EA5 di
  • 2. Pudji Astuti

    Wah... asyik ya.. liburannya. Tapi sayang kok gak mampir ke rumahku, padahal lewat lho. Rumahku di jatibenbing, tepatnya di dekat gerbang tol Jatibening/ Pondok gede Timur. Dan pada hari minggu 28 des saya lewat BSD yg pada saat itu mas Pras dan keluarga ada disana, tapi karena tidak tahu, ya... saya tidak mampir ke rumah mbak Danik. Sakjane aku yo.. wis kangen banget sama mbak Eva, tapi Alhamdulillah sore sempat ngobrol di telepon, lumayan sedikit terobati. Usul dong lain kali kalau reunian Al Hidayah di perluas ke tetangga sekitar asrama. Saya dulu kan kostnya di Terban juga, tetangga Al-Hidayah.

    08-01-09 05:51
  • 1. d3ptzz

    wah..yang foto di pohon itu keren pak..hehe

    06-01-09 12:25