Igos Summit 2: Talkshow manfaat FOSS di Pendidikan, Pemerintahan dan Industri

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Igos Summit 2: Talkshow manfaat FOSS di Pendidikan, Pemerintahan dan Industri

Date: 28-05-08 04:24
Ketika diminta bicara masalah manfaat FOSS di pendidikan, cukup lama saya merenung apakan memang ada sesuau yang khas pada Free and Opensource Software yang menjadikan FOSS sangat dianjutkan untuk pendidikan. Sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi selama ini, saya tidak menemui` hal khusus pada FOSS yang menjadikannya istimewa sehingga layak untuk diperjuangkan sebagai sistem operasi komputer utama di dunia pendidikan.

Bagi tenaga pendidik dan bisa jadi tenaga-tenaga profesional lainnya, menggunakan komputer (hardware dan softwarenya) ibarat menggunakan baju. Banyak pilihan model dan merek baju ditawarkan di pasaran, kita boleh pilih yang kita suka. Bagi banyak orang, fanatisme merek dan model baju sering mengalahkan pertimbangan harga. Pada survey yang dilakukan PPTIK di lingkungan kampus, terungkap penggunaan komputer didominasi pada aplikasi word processor, disusul presentasi dan spreadsheet. Selebihnya, secara parsial warga kampus menggunakan komputer untuk pengolahan data statistik, disain grafiis, perancangan sistem, dan hiburan. Secara umum, semua tersedia dalam bentuk FOSS maupun Proprietary. Istri saya fanatik dengan bahan katun. Bagi dia, dan anak-anak, bahan non katun akan mengganggu kesehatan kulit. Alhamdulillah produk-produk FOSS bagi kami termasuk yang "berbahan katun". Saya pernah punya teman yang fanatik dengan merek Polo, "biar bekas asal Polo!" katanya! Mungkin terjemahannya adalah: "Biar banyak virus asal..."

Lalu kenapa sejak dulu saya pakai Linux? Selain beli proprietary saya anggap berlebihan, pada dasarnya ini pilihan fashion saja. Bagi saya, produk-produk FOSS ibarat celana jean, baju batik, dan tas ransel. FOSS memberi kebebasan seluas-luasnya pada setiap orang untuk membongkar, memodifikasi dan memperbaiki sistem yang digunakannya. Tentu ini sangat menyenangkan teman-teman yang berkecimpung pada bidang pendidikan pengembangan sistem komputer. Presenter dari RedHat mengingatkan kita bahwa konsep FOSS menempatkan user pada pemegang kendali penuh pada pilihan software yang digunakannya. Tidak ada rasa waswas pada produk yang dibeli dengan harga sewa 1 dolar tahun ini akan menjadi 2 dolar tahun depan.

Dikombinasikan sifat dari software yang berbahan dasar digital yang tidak terbatas (kita bisa duplikasi digital material sebanyak daya tampung storage tanpa khawatir akan menghabisakan sumbernya), free and opensource software klop dengan filosofi universalitas ilmu yang rahmatan lil alamin itu.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik DA2A di
  • 4. prastowo

    Salah. Saya waktu itu hanya merasa heran mengapa banyak orang tidak care dengan screen resolution. Biasanya dibiarkan saja tampilan gepeng melebar. Selain itu, saya cari notebook dengan built-in webcam yang chipsetnya linux friendly.

    31-05-08 07:53
  • 3. sabix

    waduh sayang gak bisa ikutan seminarnya nih pak...
    padahal sudah ada dsana waktu itu. cuma bisa liatin Pak prass nyari2 Desktop Linux yg bisa buka file yang lebar ;))

    30-05-08 09:14
  • 2. Purwoko

    Terus terang saya gemar mengotak-atik FOSS, dalam bidang pendidikan khususnya dalam perpustakaan. Memang dengan FOSS kita bisa mendapatkan "kemerdekaan' dalam mengelola program. Kalau di UGM ada UGOS, dalam perpustakaan ada LiGOS (Library Go Open Source)...

    30-05-08 06:29
  • 1. milisdad

    Kapan foto bertiga itu dapat dilakukkan di Jogja

    30-05-08 07:45