Presentasi Sosial

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Presentasi Sosial

Date: 15-05-07 11:15

Idealnya, keputusan harus diambil berdasar data yang diinterpretasikan seobyektif mungkin namun demikian presentasi sosial dari suatu masalah dapat mempengaruhi kita pada cara berpikir dan pada akhirnya pembuatan keputusan. Berikut ini saya coba bandingkan dua presentasi sosial dari beberapa isu yang mempengaruhi keputusan tindakan kita.

Flu Burung vs Demam Berdarah

Saya bukan ahli kesehatan, tapi saya tertarik untuk membandingkan presentasi sosial dari penyakit flu burung dan demam berdarah di media.

Saya membaca berita tentang flu burung dan biaya penanggulangannya (http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/artikel.php?article_id=74255). Berita di waspada.co.id menyebutkan: "
Dari jumlah itu, sebanyak 27 kasus corfirmed. Dari jumlah korban sebanyak itu, 19 orang di antaranya (70,37 persen) meninggal dunia. " Untuk selanjutnya, angka 70% disebut sebagai jastifikasi mengalokasikan dana sejumlah 200 miliyar untuk antara lain membeli tamiflu. Baca artikel di atas selengkapnya. Detail angka kasus dan kematian bisa dilihat di http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2007_04_11/en/index.html yang menampilkan korban dari tahun ke tahun dari masing-masing negara di dunia. Dari tabel tersebut, kita bisa melihat 172 kematian dari 291 kasus. Dengan kata lain, sekitar 60% penderita flu burung di dunia meninggal dunia. Bila mengambil angka kumulatif untuk Indonesia, kita bisa mengatakan 78% penderita meninggal dunia. Gawat!

Bandingkan dengan demam berdarah. Di DKI, yang pada tahun 2007 sudah dinyatakan sebagai kejadian luarbiasa saja, tidak sampai 1 % dari penderita demam berdarah yang meninggal dunia (http://www.gatra.com/2007-04-16/artikel.php?id=103672).

Bagaimana kalau data-data tersebut dibaca sebagai berikut:
"Pada tahun 2007, di DKI saja demam berdarah telah menelan korban meninggal 41 orang; sedangkan untuk kasus flu burung dari seluruh dunia hanya dilaporkan 14 korban meninggal.

Negara Pembajak Software Terbesar

BSA mengungkap: "Worldwide losses from software piracy came to $34bn in 2005, an increase of $1.6bn over the previous year. The highest piracy rates are found in Vietnam (90 per cent), Zimbabwe (90 per cent), Indonesia (87 per cent). The lowest levels of software piracy were recorded in the US (21 per cent), New Zealand (23 per cent), Austria (26 per cent)." Ungkapan ini menanamkan pemahaman pada otak kita bahwa Indonesia menduduki ranking ke 3 dalam urusan bajak-membajak software (baca http://www.theregister.co.uk/2006/05/23/bsa_software_piracy_survey/).

Bagaimana kalau kita bandingkan kerugian yang ditimbulkan pembajak software Indonesia dibanding Amerika. Angka penetrasi PC di Indonesia ada 0.8/100 penduduk (sumber internet, lupa catat URL) yang berarti diperkirakan ada 2 jutaan PC di Indonesia. Angka penetrasi PC di Amerika 70% yang berarti ada 190 jutaan PC. Dengan 87% pembajak, bisa diperkirakan secara kasar adanya penggunaan 1,75 juta software bajakan di Indonesia. Bagaimana dengan Amerika? BSA melaporkan adanya 21% bajakan yang berarti bisa dipersirakan secara kasar adanya penggunaan 40 jutaan software bajakan. Negara mana yang memelihara pembajak sofware terbesar?

Kesiapan Opensource

Opensource sering dipresentasikan sebagai sistem sofware yang belum siap untuk bisa mengoperasikan hardware komputer terbaru dengan bukti adanya kekurangan modul sistem operasi untuk driver hardware tertentu. Dalam kenyataannya, hanya sedikit model dari vendor hardware peripheral komputer tertentu yang vendornya tidak membuka spesifikasi pengoperasiannya. Dengan demikian, kita harus bisa mempresentasikan kesiapan platform opensource dengan antara lain membuat daftar dari hardware yang tidak mendukung opensource. Daftar ini jauh lebih kecil ukurannya dibanding daftar hardware yang mendukung/didukung oleh komunitas opensource.

Agar gambaran opensource lebih adil di masyarakat, mari kita coba membuat presentasi sosial tentang produk opensource secara berimbang dan transparan. Berikut ini identifikasi yang terpikirkan saat ini, mohon komentar dan tambahan bila perlu.

Kompatibilitas Hardware
Tidak ada masalah dengan kelengkapan driver hardware di sistem operasinya. Yang perlu diwaspadai adalah keberadaan model hardware tertentu dari vendor tertentu yang tidak memiliki spesifikasi pengoperasian secara terbuka sehingga masyarakat opensource tidak dapat membuatkan drivernya. Untuk hardware-hardware semacam ini bisa dianggap sebagai peralatan khusus (banyak terpasang di laboratorium klinis, lab GIS, dsb.) yang memerlukan sistem operasi khusus.

Lembaga Pendukung
Organisasi-organisasi pengguna produk opensource seperti KPLI telah terbentuk di banyak kota di Indonesia. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah gerakan untuk "menyeragamkan" KPLI dan semacamkan sebagai unit pendukung siapa pun yang tergerak untuk menggunakan produk opensource. Pastikan ada cukup tenaga kerja di KPLI yang siap melayani dengan fee yang sepadan. Sistem boleh gratis, tapi jasa layanan harus ada yang mendanai agar dapat dimintakan tanggungjawabnya.

Kompatibilitas Data
Semua dokumen yang disunting dengan word processor modern dengan disiplin pemakaian fitur dapat diedit dengan word processor opensource. Ketidak kompatibelan tampilan dokumen pada umumnya disebabkan oleh pilihan font dan font metric yang bisa diatasi dengan memasang font yang sama atau apabila dikhawatirkan melanggar hak cipta dapat digunakan font lain dengan metrik yang sama.

Client dan Server
Sistem operasi opensource saat ini dapat digunakan maksimal baik pada client maupun server.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 1F87 di
  • 1. Atikah

    Bapak bisa nulis artikel panjaaang sekali

    29-05-07 10:37