Fungsi Pemeringkatan Perguruan Tinggi

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Fungsi Pemeringkatan Perguruan Tinggi

Date: 05-02-16 04:14
Atas permintaan teman, komen saya tentang pemeringkatan perguruan tinggi di group Aptikom saya postingkan di sini biar bisa lebih mudah. Komen ini berkaitan dengan munculkan SK Menristekdikti tentang peringkat perguruan tinggi. Pemeringkatan perguruan tinggi selalu menjadi hal kontroversial karena menyangkut publikasi reputasi yang tidak selalu mengenakkan pimpinan perguruan tinggi yang ada (apa lagi tidak ada) dalam peringkat itu.

Dulu saya antusias menggunakan webometrics sebagai indikator kinerja PUSKOM UGM saat saya mendapat amanah mengepalainya. Dari metoda pengukurannya, webometrics dapat dipandang sebagai cermin kebersediaan sivitas akademika menempatkan karya pemikirannya di web kampus sendiri. Bagi puskom ini penting karena hal tersebut mengindikasikan kualitas layanan Internet kampus. Terus terang dampak rank tinggi ugm di webometrics positif karena terbukti melancarkan anggaran (yang ini efek samping saja).

Dari penayangan rank UGM di Webometrics yang konsisten tinggi kemudian beberapa kali saya diundang perguruan tinggi untuk berbagi kiat suksesnya. Saya bilang beli saja link internet dan web server yang baik dan umumkan ke segenap sivitas akademika untuk memindahkan blognya dari server di luar ke server berdomain kampus sendiri. Tapi saya selalu mengingatkan apa boleh buat, webometric menghitung volume total content tanpa pembobotan. Volume hanya bisa \'dibeli\' dengan menambah dosen, ruang dan memperbesar daya tampung, silakan kejar UGM dengan 55 ribu mahasiswanya.

Setelah selalu stabil pada posisi naik turun pada rank 1,2 atau 3, di Indonesia dan 10-15 di Asia Tenggara, Webometric tidak lagi bisa dipakai sebagai indikator peningkatan kinerja UGM. Karena itu buat saya, data pemeringkatan Kemristekdikti itu bisa dipakai sebagai indikator kinerja kampus di sisi lain; di situ ada pendetailan aspek sdm, kegiatan mahasiswa dan publikasi. Terlihat UGM sudah baik di pembinaan kegiatan mahasiswa namun sangat kurang di publikasi karya ilmiah. So what? Jelas program selanjutnya perlu genjot dosen dan mahasiswa untuk kirim artikel ke journal-journal yang diakui Kemristekdikti, tidak hanya upload di web sendiri saja.

Idenya, manfaatkan pemeringkatan untuk melihat sisi kelemahan kita untuk diperbaiki. Jangan rusak sistem pemeringkatan dengan membuat tim sukses peringkat. Kalau mengalami peningkatan peringkat diakibatkan oleh kesuksesan tim, kita akan kehilangan alat untuk melihat kelemahan diri sendiri karena yang sukses adalah tim, bukan kampusnya. Rasanya agak aneh kemarik melihat rendahnya institusi terakreditasi A direspon dengan pelatihan mengisi formulir instrumen akreditasi. Aneh saja kalau ada institusi layak A yang tidak mendapat nilai A karena tidak bisa mengisi borang.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 6B52 di