Menelusuri Akar Masalah Pendidikan di Indonesia

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Menelusuri Akar Masalah Pendidikan di Indonesia

Date: 20-07-16 10:38
Lama saya memikirkan apa akar masalah pendidikan di Indonesia saat ini. Belakangan baru kepikiran bahwa sekolah formal SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi bukah tempat kita cari ilmu/ketrampilan tetapi tempat kita cari ijazah. Sekolah SD agar bisa masuk SMP agar bisa masuk SMA agar bisa masuk peguruan tinggi. Yang pertama-tama dipersyaratkan untuk bekerja atau menduduki jabatan tertentu adalah kepemilikan ijazah, baru kemudian kalau serius ada tes pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan dan ketrampilan yang sesungguhnya kita bangun dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya di tempat kerja atau menekuni hobi tertentu. Sumber pengetahuan dan petunjuk pengembangan ketrampilan ada di Internet. Bagaimana dengan permasalahan pendidikan?

Karena syarat utamanya adalah ijazah, bukan ilmu dan ketrampilan yang mengusungnya, maka banyak orang ikut pendidikan formal semata-mata untuk mendapatkan ijazahnya. Ada banyak pihak memahami hal ini dan mengambil keuntungan dengan menawarkan pemberian ijazah tanpa menjalani kerepotan pelaksanaan pendidikan. Konsumen datang apabila ijazahnya terbukti laku sebagai syarat melamar pekerjaan atau jabatan.

Setiap awal perkuliahan saya menyempatkan diri bertanya ke mahasiswa apa tujuan mereka masuk kuliah di program studi elins? Jawaban rata-rata kurang lebih: untuk mendapatkan ijazah sebagai bekal mencari pekerjaan. Saya tanya mengapa dipilih elins? Ijazah prodinya lumayan laku di pasar kerja. Untuk masuk prodi yang lebih keren tidak mampu. Tidak ada yang menjawab misalnya: saya akan buat pabrik robot, saya harus menguasai seluk-beluk komponen-komponen robot; atau saya tertarik bidang kerjannya. Giliran diberi kesempatan, kebanyakan pertanyaan mahasiswa tidak terkait isi pelajaran tapi teknik evaluasinya: ujian openbook atau tidak? Kisi-kisi yang akan dijadikan soal apa saja dsb.

Sebaiknya bagaimana? Saat ini sudah ada 300.000 sekolah dan 4000 perguruan tinggi di Indonesia. Pengajuan ijin pendirian sekolah, perguruan tinggai serta program studi baru masih terus mengalir. Semoga aliran baru lebih baik dari yang ditutup.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 5B79 di
  • 2. dodin04

    Saya kira permasalahannya memang berada di sistem yang sudah seharusnya diperbaharui kembali.

    25-07-16 02:26
  • 1. dodin04

    Saya kira permasalahannya memang berada di sistem yang sudah seharusnya diperbaharui kembali.

    25-07-16 02:25