Memahami Sikap Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Memahami Sikap Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Date: 25-07-17 02:38

Untuk kesekian kalianya saya mendapat kunjungan mahasiswa psikologi yang melakukan wawancara untuk penelitian tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus autisma. Sebagai pendidik di perguruan tinggi, saya selalu antusias dengan segala hal yang berkaitan dengan penelitian, termasuk penelitian psikologi yang sedikit banyak ada kaitannya dengan kondisi anak bungsu. Minat penelitian saya sendiri mulai melebar dari pengembangan sistem informasi ke internet of things dan informatika sosial.

Autisma adalah salah satu bentuk masalah pertumbuhan sosial anak yang belum mendapatkan metoda penanganan yang baku karena spektrum persoalanannya yang sangat lebar. Yang saya maksud dengan baku di sini seperti bakunya pendidikan baca huruf braile untuk anak tuna netra dan bahasa isyarat untuk anak tuna rungu. National Autism Center mendaftar ada 14 metoda intervensi untuk anak-anak autistik yang dianggap sudah mapan dan sedikit banyak ada bukti-bukti kemanfaatannya. Namun demikian beluma ada cara yang efektif untuk memilih metoda yang tepat. Pakar cenderung menyerahkan pada pada naluri orang tua. Cek http://www.nationalautismcenter.org/autism/autism-interventions/ untuk detailnya.

Dalam keadaan tanpa kepastian penanganan, banyak orang tua anak autis tetap harus melakukan sesuatu agar tidak dikatakan membiarkan anak. Perhatian mereka bisa tertarik pada berbagai solusi alternatif yang ditawarkan. Hal yang saya anggap keliru dari banyak orang tua anak autis adalah membawa anak untuk menjalani intervensi alternatif tidak atas dasar kejelasan manfaat tindakannya namun dilakukan semata-mata karena merasa asal melakukan sesuatu, agar tidak dianggap membiarkan anak, dengan dasar "siapa tahu ada hasilnya." Pengamatan saya selama ini, "siapa tahu ada hasilnya" itu selalu bermakna belum ada yang tahu itu akan memberi hasil baik atau tidak. Mencoba hal-hal baru harus dengan kesadaran penuh dilakukan sebagai bagian dari penelitian serius.

Perlu difahami bahwa pada dasarnya dalam tubuh manusia ada mekanisme untuk memperbaiki kondisi menyimpang dalam batas-batas tertentu. Sebagai contoh, dengan asupan makan yang cukup, biasanya tubuh sendiri dapat mengusir penyakit flu . Tulang patah yang tidak tergeser posisinya akan tersambung pulih dengan sendirinya dalam beberapa bulan. Untuk kasus autisma, saking banyaknya metoda yang ditawarkan dan variasi akibat dari yang pernah mencoba, sulit dibedakan apakah hasil-hasil itu, baik yang positif atau pun negatif, terkait dengan tindakan tertentu atau terjadi begitu saja seiring dengan pertambahan usia anak. Pada umumnya testimoni hasil positif metoda tertentu tidak sebanding dengan banyaknya mereka yang sudah mencobanya.

Sampai sekarang belum ada kejelasan apakah autisma adalah kondisi untuk atau yang bisa disembuhkan. Menyadari hal itu, apa yang sebaiknya dilakukan para orang tua anak autis? Spektrum autisma sangat lebar mulai dari kesulitan memfokuskan perhatian sampai kecenderungan menyakiti diri sendiri. Kenali anak "warna" anak. Target utama intervensi pada anak autis bukan "menyembuhkan" (sementara ini), namun memberi bekal ketrampilan teknis dan sosial semaksimal mungkin yang dapat diterima anak pada warnanya. Sebagian anak autis dapat dibekali ketrampilan sampai bisa mengikuti program inklusi di sekolah umum. Sebagian lain memerlukan pendampingan penuh one-on-one, mungkin selamanya.

Buat teman-teman mahasiswa yang akan melakukan penelitian pada anak-anak autisma atau orangtuanya, pastikan sudah membaca penelitian-penelitian serupa terdahulu dari perguruan-perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan psikologi di sekitar kita. Manfaatkan semaksimal mungkin hasil-hasil wawancara dan pengisian angket yang pernah dilakukan sebelumnya. Kami para orang-tua anak autis bukannya tidak bersedia diteliti, tapi coba lah untuk bisa lebih kreatif, diskusikan dengan dosen pembimbing. Menjalani wawancar/mengisi angket dengan item pertanyaan serupa terus-menerus dari waktu ke waktu tentu lah membosankan dan sangat boleh jadi menjengkelkan.

Buat para psikolog/terapis, percayalah kami para orangtua anak autis sangat menyayangi anak-anak kami sejak mereka lahir. Kalau ingin menggali kemungkinan adanya perlakukan buruk waktu anak masih kecil, coba lah mencari trik pertanyaan yang lebih kreatif, hindari pernyataan semacam "mungkin dulu anak ini kurang mendapat perhatian/kasih sayang dari dari orang tua." Kalau mendengar pernyataan seperti itu, sakitnya tuh di sini. --smile.

Buat teman-teman semua, biasa saja lah. Tidak perlu setiap ada kesempatan menyampaikan simpati dengan kata-kata hiburan semacam "salut atas kesabaran bapak/ibu menghadapi cobaan...." atau "semua ada hikmahnya" atau "biasanya anak autis itu jenius lho" --smile.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 7E81 di