Menyelamatkan Aset Digital Milik Bangsa

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Menyelamatkan Aset Digital Milik Bangsa

Date: 28-11-07 08:17

Dengan meningkatnya kesadaran nilai strategis dari layanan teknologi informasi dan komunikasi, perguruan-perguruan tinggi di Indomesia mulai berlomba-lomba memberikan layanan terbaik bagi segenap sivitas akademika. Universitas Gadjah Mada, misalnya, memberi layanan free untuk segenap warga kampus: Akses Internet dapat diberikan dalam bentuk penyediaan public terminal atau public access point. Public wireless access point semakin disukai karena adanya pembagian pembiayaan infrastruktur akses internetnya. Untuk menjamin meratanya pelayanan, perlu diberlakukan suatu pembatasan semisal dengan time-based atau volume-based login. Jenis pembatasan lain seperti maksimum koneksi tcp/nomor IP diberlakukan di kampus ITB.

Sudah seharusnya mail dan web hosting yang handal menjadi layanan dasar TIK kampus. Layanan dapat diberikan dalam bentuk "mentah" yang memberi kebebasan penuh pada pengguna untuk berkreasi; dapat pula diberikan dalam bentuk paket jadi dengan webmail dan weblog server. Secara teknis, instant messaging server dapat dipasang dengan mudah. Jabberd2 misalnya, telah terbukti mampu melayani kebutuhan chatting dengan jumlah user yang banyak.

Komunikasi Telpon Klasik dan Vicon

Sistem sentral telpon modern pada umumnya dikendalikan dengan sistem operasi unix like. Dengan hardware PC biasa, kita bisa memasang SIP Express Router atau Asterisks sebagai pusat kendali telpon kampus. Sistem telpon kampus dapat dibangun dengan pendanaan distributed melalui jaringan komunikasi data kampus dengan cara membebani user dengan biaya pembelian IP phone (sekitar Rp.800.000,--) dibanding beban sentral PABX yang biayanya bisa mencapai sekitar 2 juta rupiah/line.

Dengan beroperasinya INHERENT (jaringan komunikasi data perguruan tinggi), aktivitas video streaming yang memerlukan bandwidth besar mulai meningkat volumenya. Saat ini telah menjadi tradisi untuk menggantikan kehadiran fisik untuk kuliah umum di perguruan tinggi lain atau technical assistant dengan pertemuan melalui sistem video teleconference.

Inisiatif Unit Kerja

Kecepatan kemajuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi unit-unit kerja di lingkungan kampus tidak sama satu dengan yang lainnya. Beberapa unit kerja biasanya memerlukan tempat jauh lebih besar dari unit lain. Untuk memfasilitas kebutuhan ini, sentral jaringan komputer kampus biasanya memberikan fasilitas co-location, tempat unit-unit kerja dapat menitipkan server sendiri. Dengan co-location, unit kerja dapat menyediakan sendiri kebutuhan spacenya tanpa harus menunggu ketersediaan sistem sentral.

Beberapa unit kerja bahkan biasanya meminta jatah koneksi Internet secara langsung. Koneksi Internet independent dapat diberikan pada unit-unit kerja yang telah memiliki kesiapan sarana prasarana (UPS, genset, ruang server) dan SDM yang mencukupi agar standar layanan kampus tidak terganggu.

Kendala ”Pemasaran”

Banyak hal perlu dicermati untuk menarik perhatian masyarakat kampus agar bersedia menggunakan layanan lokal untuk keperluan komunikasi sehari-hari mereka.

Layangn TIK Kampus pada umumnya dianggap kurang handal oleh warga kampus sendiri. Sering layanan mail dan web hosting diberikan dalam bentuk eksperimental yang sewaktu-waktu dapat berubah ke dalam bentuk yang "lebih baik" bagi pengembangnya namun dapat menjadi kejutan-kejutan yang tidak mengenakkan kelompok pengguna tertentu. Beberapa aktivitas peningkatan level security kadang mengorbankan kenyamanan yang telah dirasakan pengguna sebelumnya. Sering pengembang lupa melakukan sosialisasi atas perubahan-perubahan yang akan dilakukan.

Saat ini banyak layanan-layanan ”gratis” ditawarkan di Internet. Kata gratis saya beri tanda petik karena pada dasarnya kita membayarnya dengan menjadi "pegawai" institusi penyelenggara sistem tersebut sebagai petugas data entry. Dengan menggunakan layanan tersebut, kita "bekerja" memasukkan data-data dalam bentuk berbagai aktivitas komunikasi yang kita lakukan. Semakin sering kita gunakan sistem tersebut, semakin banyak data yang kita entrykan dan semakin tinggi nilai jual sistemnya. Yang mudah difahami adalah nilai jual iklan namun yang lebih menguntungkan lagi adalah nilai jual hasil riset dari material digital yang dimasukkan para pengguna.

Kurang percaya pada integritas administrator sistem

Banyak pengguna merasa lebih aman menggunakan sistem yang dikelola pengusaha dari negeri lain daripada negeri sendiri. Pada dasarnya, nuansa kompetisi lebih banyak dirasakan dengan sesama pelaku teknologi di dalam negeri dibanding dengan pelaku luar negeri. Dengan mind set kompetisi dalam negeri, banyak diantara kita yang "merelakan" aset digital material untuk dikoleksi di luar negeri daripada dikoleksi kompetitor di dalam negeri.

Permasalahan khas kampus adalah adanya dominasi warga kampus yang kebetulan sedang menikmati layanan Internet di ngeri lain semisal sedang mengambil sekolah lanjut S2/S3 atau post doctoral dan berbagai short course. Suara sebagian warga golongan ini punya kontribusi yang cukup tinggi pada penurunan kepercayaan warga kampus pada layanan TIK sendiri.

Permasalahan Teknis

Selain masalah sosial, pengelola TIK kampus selalu disibukkan dengan permasalahan teknologi yang memang selalu menantang. Rentang tugas pengelola TIK kampus bisa meluas mulai dari pemasangan jalur fisik, pengembangan sistem, sampai layanan personal untuk tiap-tiap user semisal pembersihan virus atau instalasi ulang sistem operasi dan aplikasi.

  • Virus dan Spam
Sambil terus disibukkan dengan virus control yang semakin kompleks, tambahan aktivitas spam control juga semakin merepotkan

  • Biaya Komunikasi Data
Harga saluran Internet masih jauh di atas biaya total operasional TIK kampus selebihnya

  • Perilaku User
Perilaku pengguna Internet yang tidak terkontrol (dampak kebebasan akademik?)

Bocornya Digital Material Aset Bangsa

Banyak artikel/text book yang menekankan pentingnya penguasaan informasi. Semakin lengkap data, semakin berlipatganda informasi yang dapat digali. Pada satu item data tersimpan potongan-potongan data yang akan muncul bila beberapa item data digabungkan. Dengan teknologi informasi, koleksi data dapat dikumpulkan dalam waktu singkat melalui penggunaan suatu sistem layanan yang digemari di Internet.

Boleh dibilang semua warga kampus menggunakan Yahoo mail sebagai sarana email cadangan atau bahkan utama. Saat ini layanan mereka bahkan menawarkan unlimited space. Di satu sisi, kita memandangnya sebagai suatu kemurah hatian. Disi lain pada dasarnya justru kita lah yang sebenarnya bermurah hati menaruh data-data penting dalam server mereka itu. Banyak yang menggunakan Google mail sebagai sarana penyimpanan file bahkan untuk membackup file-file yang sifatnya sensitif. Sedikit di antar kita yang peduli atas privasi bangsa. Yang penting, kebutuhan sesaat kita terpenuhi dengan cara menyetorkan data-data yang kita miliki ke Yahoo dan Google.

Informasi strategis sering dibicarakan di YahooGroups dan Yahoo Messanger. Yahoo dan Google menjamin kerahasiaan satu user dari user yang lain. Pada saat yang sama, mereka memegang hak untuk meriset content yang kita setorkan tersebut. Mereka menjamin dalam proses riset tidak melibatkan manusia yang melihat langsung pada content kita; namun kecanggihan algoritma data mining tetap dibentuk oleh manusia dengan tujuan presisi mendapatkan informasi tentang kita.

Memahami Perilaku User

Untuk merebut hati masyarakat kampus agar beralih dari pemakaian server-server asing ke server-server sendiri, kita perlu memahami perilaku pengguna tersebut.

User mengikuti ketersediaan bandwidth

Semakin besar bandwidth disediakan semakin besar pula pemakaiannya dari aplikasi user.
  1. Email dan Chat berbasis Text
  2. Mail attachtment dan transfer file
  3. Download big files
  4. Streaming
  5. Jumlah PC terus meningkat
  6. Penggunaan sistem software
  7. ”download accelerator”

Kampanye kesadaran perlindungan aset digital

  1. Gunakan server-server mailbox, mailing-list, instant messaging, voip, dsb. yang dikuasasi institusi dengan bermisi menguatkan kemandirian dan daya saing bangsa. Mungkin pada awalnya sistem-sistem lokal tersebut tidak bisa diandalkan, namun dengan meningkatnya kuantitas penggunaan, pengelola sistem akan terpacu untuk meningkatkan pula kualitas layanannya
  2. Kembangkan layanan dasar Internet dalam negeri dengan kualitas industri yang dapat diandalkan. Dipakai atau tidak, pengembangan sistem yang telah direncanakan tidak boleh dihentikan. Yang diperlukan adalah mengadakan pemasaran secara sistematis untuk penggunaan sistem-sistem tersebut.
  3. Tanggung jawab siapa? Tanggung jawab semua. Barangkali dengan situasi di Indonesia seperti saat ini, sistem-sistem layanan dasar Internet ditangani secara serius oleh pemerintah. Dalam hal ini, Depkominfo yang paling tepat.

Darimana kita mulai?

  1. Sambil mengupayakan perlindungan teknologi, laksanakan perlindungan hukum
  2. Kampanye kesadaran pentingnya melengkapi materi digital (dokumen, karya seni, karya program komputer) dengan meta data authorship/copyright
  3. Lindungi dokumen-dokumen konsumsi terbatas di web server dalam folder dengan file ”robot.txt”

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 218B di
  • 3. idris

    Semoga situs saya ini juga merupakan satu langkah kecil untuk mengamankan aset digital milik bangsa Indonesia..

    30-05-12 03:15
  • 2. prastowo

    terimakasih mas Idris.

    27-05-12 01:14
  • 1. idris

    ingin mengingatkan pak, yang betul adalah robots.txt pake s pak, biar dingin.. hehe..

    27-05-12 11:26