Tentang Daya Beli Masyarakat

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Tentang Daya Beli Masyarakat

Date: 31-07-17 10:17

Rhenald Kasali (RK) berargumentasi bahwa pada dasarnya penurunan penjualan belum tentu karena menurunnya daya beli. Dugaannya, telah terjadi pergeseran tempat membeli dari supermarket dan rantai pengecer besar ke penjual barang dan jasa non-konvensional (berbasis komunikasi Internet). Ada sejumlah indikator yang dia sebutkan di artikel http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/29/120323026/daya-beli-terpuruk-tetapi-jalan-semakin-macet yakni:

  1. jalanan macet;
  2. pengguna taksi-hotel konvensional beralih ke transport-penginapan dengan administrasi on-line sepenuhnya
  3. kenaikan pengguna jasa bandara Halim dan Soetta saat mudik lebaran terakhir
  4. Hasbro vs Mattel
  5. penjualan motor turun, mobil naik
  6. produksi terigu naik
  7. omzet jasa paket JNE, JNT dll naik; artinya omzet tokopedia, bukalapak dll naik.

Setelah saya baca berulang kali artikel itu, rupa-rupanya RK tidak sedang berargumentasi tentang terjadi tidaknya penurunan daya beli tapi masih tentang tema lama disruptif bisnis yang mengingatkan para pengusaha konvensional agar memperhatikan perubahan pola konsumsi masyarakat. Masalah ini dulu (2010) pernah saya bahas secara singkat di http://ploworks.wg.ugm.ac.id/public.php?filein=news&artikel=529BD6D28407AA30. Tentang penurunan daya beli, RK masih menebak-nebak: "Saya tak mengatakan daya beli telah tumbut besar-besaran. Saya hanya mengatakan terlalu dini menuding penurunan pendapatan dan penjualan karena daya beli. Mungkin bukan itu masalahnya."

Coba kita baca "fakta" yang disampaikan RK itu dari sisi lain yakni sebagai pendukung dugaan penurunan daya beli (setidaknya daya beli gagal naik). Bagaimana kalau kita hipotesakan bahwa jalan macet bukan karena orang tambah kaya beli banak mobil tapi karena banyak orang milih bawa motor luar-kotanan dibanding naik kereta api karena kereta api mahal. Bisa juga dibaca variabel lain yang mungkin perlu diperhatikan semisal kenaikan jumlah penduduk versus kenaikan panjang/lebar jalan. Fakta lain tentang bergesernya konsumen barang/jasa yang ditawarkan dengan cara konvensional yang menurun sementara yang non-konvensional naik itu justru bisa dibaca sebagai penurunan daya beli; konsumen selalu cari yang lebih murah, belum tentu karena lebih nyaman, lebih cepat, atau lebih aman. Untuk (i Hasbro vs Mattel) saya tidak melihat relevansinya dengan daya beli. Data naiknya produksi tepung terigu itu menarik. Sangat boleh jadi berkaitan erat dengan peningkatan minat makan bakmi Jawa dari kalangan menengah atas. Di kampung saya ada 4 penjaja bakmi jawa keliling meningkat usahanya dengan mekakai lahan berdekatan, tidak lagi keliling. Pelanggan bertambah banyak.

Omong-omong tentang murahnya barang/jasa yang dipasarkan dengan cara baru itu belum tentu karena cara lama tidak efisien. RK belum memasukkan faktor subsidi pada bisnis-bisnis disruptif. Coba teman-teman googling profit dari Tokopedia, Go-Jeck, Grab, Uber, dan kawan-kawan. Saya belum menemukan satu pun yang di Indonesia mengaku untung. Artinya mereka semua, sampai sekarang setelah setidaknya 5 tahun beroperasi, mereka masih menggerus dana investasi.

Kalau pergeseran pola konsumsi dari bisnis konvensional ke non-konvensional dianggap sebagai bertahannya daya beli maka bisa disimpulkan sementara kalau bertahannya daya beli itu terjadi karena adanya subsidi dari investor. Sampai kapan investor kuat menggelontorkan uangnya? Bisa jadi sampai bisnis konvensional benar-benar mati dan konsumen tidak lagi punya pilihan.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 7403 di