Penganiayaan Orang Indonesia oleh Orang Malaysia

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Penganiayaan Orang Indonesia oleh Orang Malaysia

Date: 11-10-07 10:31

Berita penganiayaan orang Indonesia oleh orang Malaysia yang beberapa kali terjadi akhir-akhir ini sungguh membuat berang kita semua. Berbagai usulan bagaimana Indonesia harus bertindak tegas bermunculan dari banyak kalangan termasuk DPR mulai dari teguran keras sampai pemutusan hubungan diplomatik. Ini masalah harga diri.

Yang menjadi masalah Indonesia adalah, mampukah kita menjaga harga diri dengan pemutusan hubungan diplomatik? Pokok persoalan yang kita hadapi adalah keberadaan majikan serakah di Malaysia yang tidak terkondisi untuk merasa takut mempekerjakan SDM ilegal dari Indonesia. Celakanya, di Indonesia bisa ditemui agen-agen tidak bertanggungjawab yang menyalurkan tenaga kerja ilegal ke Malaysia. Selain itu juga cukup banyak pengangguran yang tidak mempedulikan resiko dan harga diri saat mendapat tawaran uang satu dua ratus ringgit.

Selama Indonesia tidak mampu memberi lapangan kerja dengan penghasilan sepadan, Malaysia terbukti tidak malu untuk mengambil keuntungan ganda dari situasi ini. Di satu sisi, majikan pabrik/perkebunan mendapatkan tenaga kerja murah (hemat devisa bagi negara), disisi lain pasukan Rela menggiring pekerja ilegal untuk menyelesaikan masalah imigrasi dengan membayar denda/pajak (pemasukan devisa). Saat ini pemutusan hubungan diplomatik akan memutus pula jalur perlindungan pada tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Putusnya perlindungan TKI legal bakal meningkatkan jumlah TKI tidak legal. Akankah kesalahan kita timpakan pada para pekerja ini?

Saya pikir untuk saat ini kita tidak bisa berbuat banyak selain mendidik diri sendiri agar bisa menjaga harga diri untuk tidak menjadi pekerja ilegal di negeri orang (dan juga di negeri sendiri). Ini bukan masalah diplomatik, ini masalah karakter (oknum) warga negara Indonesia yang bisa saja karena tekanan ekonomi rela melanggar hukum. Ini juga masalah karakter (oknum) warga negara Indonesia yang karena tekanan keserakahannya rela menjerumuskan sesama WNI kedalam situasi melanggar hukum sebagai TKI ilegal.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik F957 di