Demokrasi di Masyarakat Kita

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Demokrasi di Masyarakat Kita

Date: 03-07-12 10:14
Beberapa waktu lalu saya disodori kertas dengan cap RT dan diminta mengisi figur yang pantas menjadi ketua RT. Nama-nama itu dikumpulkan panitia dan dipajang di papan tulis untuk dipilih. Saat pemilihan, setiap warga yang punya hak pilih diminta menuliskan salah satu dari nama yang terpajang itu yang dianggap paling pantas menjadi ketua RT.

Dari omong-omong sesama warga, ketua RT (saya pernah merasakan satu perioda) dipilih berdasarkan resiko bagi warga sendiri bila seseorang terpilih sebagai ketua. Dulu, waktu nama saya masuk dalam daftar calon, saya sudah bilang ke teman-teman warga bahwa saya bakal sering mbolos kalau ada undangan pertemuan RW atau Keluarahan. Kali ini, dengan banyak pertimbangan di masing-masing pemilih, akhirnya ibu Ali mendapat suara terbanyak. Suatu pilihan yang tepat mengingat beliau dikenal cermat, hormat pada yang tua, bisa ngemong remaja dan anak-anak serta aktif di kegiatan RW dan Keluarahan. Bu Ali bersedia, warga wilayah seluas 30 kepala keluarga bisa benar-benar merasa puas dengan \'pesta\' demokrasi itu.

Pada pemilihan ketua RW, saya (warga) yang tidak lagi bisa membuat penilaian satu persatu dari anggota warga yang lain (wilayah seluar 5 RT) cenderung menyerahkan keputusan pada ketua RT dan teman-teman kampung yang sempat datang ke acara pemilihan. Terserah saja. Di level yang masih sangat rendah ini saja, kelemahan demokrasi sudah nampak. Bila ada satu saja kelompok yang punya vested interest tertentu, mereka bisa memanfaatkan sikap \'terserah\' dari warga lain untuk menggoalkan interest kelompoknya. Kebetulan, di tempat saya terpilih RW yang tidak bermasalah.

Dalam lingkup warga yang luas, memilih anggota DPR, Walikota/Bupati, Gubernur (kecuali Jogja) dan Presiden sangat rentan terhadap sikap terserah yang diekspresikan dalam bentuk golput (tidak ikut pemilu).

Kita mengenal seseorang calon bila dia menokoh. Penokohan tidak bisa lepas dari seringnya tampil di media massa, terutama televisi. Persoalannya sama dengan yang terjadi di negara-negara lain, penguasa media massa tidak bisa melepaskan diri pemihakan kepentingan politik tertentu. Runyamnya, banyak yang meyakini bahwa hanya berita-berita buruklah yang laku dijual di masyarakat sampai-sampai ada pepatah: \"bad news is good news.\" Akibatnya masyarakat lebih banyak tersuguhi sisi negatif dari banyak figur yang diberitakan di media massa.

Nampaknya pemberitaan buruk di media massa tentang banyak figur menumbuhkan sikap apatis, terserah, yang kemudian diekspresikan dengan memilih untuk golput atau tidak ikut-ikutan dalam kegiatan pemilu. Masalahnya secara matematis, menjadi golput sama dengan memberi kekuasaan lebih besar pada pemenang pemilu.

Secara pribadi saya yakin dan ingin meyakinkan teman-teman bahwa sikap golput akan memperburuk situasi yang diakibatkan oleh ketidak cocokan model pemerintahan demokrasi dengan suasana batin masyarakat di Indonesia. Karena itu kita perlu mencari peluang-peluang baru (antara lain melalui Internet) untuk bisa berkenalan dengan atau memperkenalkan tokoh-tokoh yang kita anggap bisa lebih baik memimpin jalannya pemerintahan negeri ini.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik B93F di