Janganlah kamu campuradukkan yang haq dan yang bathil!

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Janganlah kamu campuradukkan yang haq dan yang bathil!

Date: 20-09-08 01:11

Terjemahan Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 42 berbunyi "Janganlah kamu campuradukkan yang haq dan yang bathil, dan jangan kamu semunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya."

Ketika saya mendakwahkan pemakaian Linux di kelas kuliah, selalu saja ada yang menanyakan apakah Linux bisa diinstall berdampingan dengan Windows di komputer yang sama untuk digunakan bergantian. Jawaban standar saya adalah: "secara teknis bisa, bahkan tidak harus bergantian (via virtualbox), namun secara operasional tidak akan memberi manfaat apa pun."

Manfaat Linux akan kita dapat secara maksimal bila kita istiqomah dalam penggunaan sistem operasi ini. Istiqomah dalam arti bila ada kesulitan, kita mencari belajar, baca manual, search ke Internet, tanya minta bantuan untuk menyelesaikannya dengan cara Linux pula. Dengan demikian setiap saat akan bertambah pengetahuan kita dan sekaligus meningkatkan status kita sebagai resource person yang sebagai perantara pembawa berkah/manfaat bagi orang lain.

Apabila di komputer kita masih tersedia sistem operasi lama, kesulitan (ketidaktahuan) cara melakukan sesuatu dengan Linux akan diselesaikan dengan booting sistem operasi lama. Sampai kapan pun kondisi ini tidak akan membantu kita bisa menggunakan sistembaru.

Pernah suatu saat ada teman yang bilang kan di UGM sudah ada Microsoft Campus Agreement (MSCA) yang melegalkan penggunaan produk Windows dan Office dari Microsoft. Pemikiran ini bila tidak difahami secara utuh bisa menyesatkan. Legalnya pemakaian sistem operasi dan office di kampus sudah cukup memberi ketenangan pada banyak orang untuk menggunakan software-software lain dengan cara embajakan: Photoshop, CorelDwar, SPSS, AutoCad, dan sebagainya. Pada hal, harga lisensi software-software tersebut bisa jadi jauh lebih mahal dari MCSA Pada hal, mereka tidak ada kalitan langsung dengan MSCA. Kesimpulannya, MSCA tidak membebaskan UGM dari tindak kejahatan pembajakan software, namun malah memberi ketenangan pada para pembajak.

Bagaimana dengan kita-kita yang sudah menggunakan Linux, OpenOffice.org, Gimp, Inkscape, Google ScketchUp (via wine), PSPP, R-Base, dan sebaginya? Apakah berarti sudah bersih dari dosa-dosa digital? Tunggu dulu! Ada beberapa diantara kita yang pemakaian sistem operasinya sudah legal (Opensource atau bukan). Program-Program aplikasinya 100% legal, namun koleksi file mp3nya masih banyak yang bajakan. Bahkan sangat boleh jadi memelihara pula koleksi jpg, mov, avi, dan semacamnya yang tidak hanya ilegal dalam pengadaannya namun, naudzubillah, content-nya pun penuh najis.

Kembali ke Surat Al Baqoroh ayat 42: "Janganlah kamu campuradukkan yang haq dan yang bathil, dan jangan kamu semunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." Mari kita manfaatkan momen Ramadhan ini sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita secara menyeluruh.

Semoga Allah swt memberi kekuatan pada kita untuk menyingkirkan kebathilan pada diri kita dan sekeliling kita. Semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk bisa segera membersihkan segala peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang dikuasakan pada kita untuk menggunakannya dari segala bentuk najis digital.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik E388 di
  • 10. chodirin

    tulisan yang bernas pak cahyo.
    sayang masih banyak kendala untuk diimplementasikan.

    16-05-10 11:37
  • 9. prastowo

    Memang tidak mudah meninggalkan kesenangan dunia. Coba renungi lebih dalam, untuk keperluan apa Flash dan DeamWeaver dibuat? Coba renungi lebih dalam, seberapa jauh kita membutuhkan Visual Studio 2008 sehingga terpaksan membajaknya untuk membangun sistem informasi manajemen misalnya yang sangat kita perlukan untuk membantu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan misalnya? Alhamdulillah sampai saat ini PPTIK UGM bisa membantu Kota Jogja menekan biaya produksi dan operasional software dengan memanfaatkan produk opensource.

    Mengenai kecenderungan atau niat kita dalam menekuni profesi masing-masing, mari kita berdoa agar Allah senantiasa meluruskannya ke jalan yang benar serta membersihkannya dari hal-hal yang menyimpang. Saya tidak berani menilai ketaqwaan seseorang atas dasar hal-hal yang ditekuninya. Dalam pemahaman saya, tidak mustahil seorang programmer yang hafal kode-kode bahasa komputer lebih bertaqwa dibanding da'i yang hafal Al Qur'an. Penilaian ketaqwaan seseorang merupakan hak mutlak Allah swt.

    05-10-08 09:16
  • 8. Eko SW

    Lama saya merenungi diskusi kita.

    Saya pernah berniat dan berusaha, menggunakan software2 Ori (trial maxutnya) saja, dan jg hanya Linux. Hm...,

    pengalaman agak susah. Bgmn dgn solusi u/ Flash? Jg, DreamWeaver...tidak bs diabaikan. Meski, .. yah, "barangsiapa meninggalkan yg haram, Allah akan gantikan dgn sesuatu yg lebih baik, dr yg ia tinggalkan".

    Setuju Pak.
    Sbg programmer, sptnya saya jg tidak (kurang ikhlas) kalau karya (produk) saya, yg hanya saya lepas dgn harga tertentu, dipakai "seenak udele dewe". Coba nanti saya audit software di laptop saya : bener2 bs ori tidak ya? (
    Kayanya kok ndak bs ya Pak? Mikir2 lg, gmn dgn Visual Studio 2008 Profesional? Yg versi Express... hm..., bs ActiveX ndak ya? Walah, ha ha ha, kok jadi malah berkeluh kesah disini. Hehehe

    Untuk perkara dunia-akhirat. Hm... mungkin kita harus sepakat gini aja Pak : diantara bani adam, ada yg lebih cenderung ke dunia, ada yg lebih cenderung ke akhirat. Kita nih Pak, harus sepakat : bahwa kita cenderung ke dunia. Kalau mau protes, argumentasi saya satu : saya (bukan Bapak lho) belum hafizh qur'an. Lha, kalau kt cenderung ke akhirat, pasti kita akan lebih mempelajari Al-Qur'an (menghafal dan mengajarkannya) disamping (atau ketimbang) Software Development.

    Begitulah Pak..

    • Lama sekali saya merenungi ini

    05-10-08 08:01
  • 7. prastowo

    Wah... saya yakin kita bicara dalam konteks yang berbeda. Kehidupan akhirat itu kekal, sementara dunia itu fana. Secara matematis, jelas fana jauh lebih pendek dari kekal. Namanya juga kekal. Seberapa besar pun yang kita hadapi di dunia ini, kalau dibanding kekal (punya nilai tak berhingga) tentu lah sangat kecil. Namun demikian, kualitas kehidupan kita di akhirat sangat bergantung pada apa yang kita perbuat di dunia ini. Dalam konteks perbuatan di dunia ini, kita tidak boleh meremehkan barang sesuatu meskipun hanya sebutir zarah.

    Saya pribadi memandang keliru pemahaman keagamaan yang mengakibatkan kita meremehkan dunia. Bagaimana bisa kita remehkan dunia tempat kita beribadah? Bukankan dunia ini diciptakan sebagai tempat manusiamembuktikan bahwa dirinya bisa lebih baik dari malaikat?

    Tentang "dunia tidak lebih berharga dari bangkai kambing" tidak bisa difahami dari kalimat itu saja mengingat bangkai kambing itu sendiri kan bagian dari dunia, jadi tidak bisa dibandingkan begitu saja. Pasti ada penjelasannya. Tentang hadith riwayat At-Tirmidzi nomor 2320 itu kok aneh menurut saya, sangat bolehjadi ada kesalahan penerjemahan. Dalam pemahaman saya tentang Islam selama ini, Allah memberi nilai tinggi pada dunia ini sampai-sampai Dia bersumpah atas nama berbagai elemen dari dunia seperti Waktu, buat Tin, dan Zaitun.

    27-09-08 06:14
  • 6. Eko SW

    yg ini lebih dahsyat lagi : "“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.”"

    (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)

    Wuuuih...
    http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587

    26-09-08 10:48
  • 5. Eko SW

    Memang rumit serumit-rumitnya. Memikirkan dunia ini, seperti memikirkan

    dualisme cahaya : bisa materi (saat adanya fenomena foton menabrak lempengan emas) atau bisa gelombang (saat adanya fenomena difraksi).

    Googling ttg "kehinaan dunia" ada yg menarik : "Rasulullah saw. bersabda: Sungguh sekali berangkat pada pagi hari di jalan Allah atau pada siang hari adalah lebih baik dari dunia serta isinya". Padahal cuma sepagi sepetang (belum sepenuh hari) sudah melampaui semua yg ada di dunia beserta isinya. Hehe, coba deh Pak, bahkan Mr. Bill Gates, saya pikir kok tak mungkin membeli satu Pulau saja, misalnya Bali. Padahal beliau punya harta dan kedudukan.

    Kemarin, di masjid al-ittihaad saya, ada bayan (nasihat) dari Jama'ah kuningan yang sampaikan hadits nabi, "tidaklah Allah menciptakan sesuatu yang dibencinya, melainkan dunia". Kemudian ada jg hadits yg mafhumnya, "segala sesuatu di dunia ini terlaknat, kecuali dzikir dan yang berhubungan dengannya". Kalau Nabi SAW sudah mengatakan semua, ya sudah, musnah sudah semua cinta kepada dunia...

    Satu lagi kalau mau diantagonikan, betapa dunia tak berharga dibandingkan eksistensi yg sesungguhnya, adalah apa yg akan kita hasratkan di ranjang kematian, di saat Malaikat Izraail mendampingi kita. Merencanakan proyek2 IT kah? atau berkeluh kesah, mengandaikan dulu lebih sering ke masjid dan lebih banyak bekal dan persiapannya? Kalau jawabannya yg pertama, ya sudah, berarti dunia punya harga, tp kalau yg kedua, nah, itu proof kalau dunia tak berharga. Sekedar ... apa ya? hm hm hm, ujian, yg harus dikalahkan!!!

    NB :

    • Di sini, lebih lanjut diutarakan, bahwa dunia ... tidak lebih berharga dari bangkai kambing yang cacat telinganya. : http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587

    26-09-08 10:45
  • 4. prastowo

    Memang rumit. Saya pribadi tidak berani menghinakan dunia karena Allah menciptakan dunia tidak sia-sia. Kehidupan akhirat saya insya Allah sangat bergantung pada apa yang saya perbuat, di dunia ini, besar atau kecil menurut ukuran kita.

    23-09-08 07:34
  • 3. Eko SW

    setuju Pak Bambang, kebetulan --ga ding, emang disengaja-- saya berguru sama temen2 yg .. menghinakan dunia. jadi yah, ruwet deh kalau bicara2 gini. langsung tertusuk aja sih hatinya : sesuatu yg saya cintai dan geluti, eeeh, ternyata cuma masalah dunia yg --dalam beberapa riwayat-- harganya di sisi Allah tak lebih berat dari sebelah sayap nyamuk...


    Tapi, selalu, tetap debatable...

    Mungkin saya salah banyaaak sekali disini..

    Monggo zuhur di masjid

    22-09-08 11:55
  • 2. prastowo

    Saya kira permasalahan ini sama dengan perdebatan perokok dan non perokok tentang fatwa haramnya merokok. Isu utama di sini bukan pada perbedaan Linux atau Windows, tetapi pada apa konsekuensi akhirat dari tindakan kita memencet tombol Yes/Accept pada tombol pernyataan penerimaan suatu naskah perjanjian yang kita menyengaja melanggarnya. Soal ini perkara kecil, menurut saya juga bergantung pada siapa kita berguru. Ada ustadz yang begitu serius meminta kita memperhatikan hal-hal kecil mulai cara berpakaian, cara bicara sampaicara berpikir.

    21-09-08 02:14
  • 1. Eko SW

    wah, pak bambang euy! kadang2 --bgtz-- sy jg mikir gitu : gimana ya sudut pandang Allah SWT terhadap perkara ini? kira2 Allah serius ndak ya dengan perkara ini? jawabannya tentu di Al-Qur'an.

    teruuuus. saya pikir lg... jangan tersinggung ya Pak Bambang, sy pkr, yg dipikir Nabi Muhammad SAW dalam hal dakwah bukan itu deh. Kudunya masalah Sholat Berjama'ah deh.

    mungkin debatable, tp saya pikir Linux/Window, oalah, hanya perkara dunia yang kecil, dan mungkin ga akan Allah tanya2 di akhirat ke kita. Gini kali2 tanyanya : "Yaa Eko, Anda pakai sistem operasi apa di dunia dulu?" Saya jawab, "Windows yg paling baik ya Allah. Sy jd bs lebih banyak membantu siswa2 u/ lulus dr kuliah mereka"...

    Hehe, tp sebelum tanya2 itu, semoga saya sudah dibebaskan dr hisab, dan langsung masuk surga. kuncinya satu, Jaga Sholat Berjama'ah di masjid, jangan di kantor. Apapun posisi kita di kantor itu.

    Bagaimana Pak Bambang???

    Urgent dan important sekali ini, mengingat usia kita berkurang detik demi detik.

    21-09-08 09:23