Mengapa harus selalu aku yang mengalah?

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Mengapa harus selalu aku yang mengalah?

Date: 30-07-12 06:29
Dari ekspresi/status di berbagai jejaring sosial saya sering membaca keluhan seseorang yang merasa harus selalu mengalah dalam perselisihan di kehidupan rumahtangganya. Alasan serupa juga sering kita baca di berbagai berita perceraian selebriti. Setelah saya renungi perjalanan 23 tahun berumah tangga saya meyakini bahwa memang dalam kehidupan berumah tangga kita harus selalu mengalah.

Kata kuncinya adalah mengalah, bukan 'yang mengalah.'

Perkawinan adalah bersatunya dua orang dari dua lingkungan keluarga yang sangat berbeda. Berbeda dalam banyak hal kalau tidak bisa disebut segala hal. Urusan yang sama bisa menjadi sangat berbeda karena perbedaan prioritas. Saya akan sampaikan beberapa pengalaman yang barangkali bisa kita pelajari untuk belajar bersama untuk menyikapinya sebaik mungkin.

Acara Makan

Istri saya datang dari keluarga yang menjalani kehidupan dengan acara makan bersama sekeluarga secara teratur. Artinya dikeluarga dia, makan pagi, siang, dan malam dilakukan bersama-sama sekeluarga di satu meja makan. Kegiatan dimulai dengan 'tata dahar' (menata piring, nasi dan lauk di meja) dan diakhiri dengan cuci piring. Ini dilakukan rutin tiap hari.

Saya datang dari keluarga yang tidak punya acara makan bersama. Nasi dan lauk tersedia di tempat masak masing-masing. Piring ambil sendiri dari rak piring di dapur. Makan bisa dimulai kapan saja asal sudah ada yang bisa dimakan. Kadang agak telat pun tidak masalah. Untuk memberi gambaran betapa bedanya keluarga saya dengan keluarga istri, kakek saya, ayah dari ibu saya, tidak bisa makan bersama anak-anak. Saat makan, beliau bahkan minta nenek menjauhkan anak-anak.

Pada mulanya, makan bersama istri di meja makan secara teratur tiap haru merupakan pengalaman baru yang menyenangkan namun lama kelamaan saya meresa ada yang hilang. Penyesuaian terjadi hari demi hari dari kedua belah pihak semua harus mengalah. Kami beruntung karena mengawali kehidupan berumahtangga di apartemen kecil di Kanada. Nasi ditanak menggunakan rice cooker yang memang ditempatkan di meja makan. Kompor dan rak piring berdekatan dengan meja makan. Sekembalinya di Indonesia, rumah kami rancang mirip dengan layout apartemen itu. Dapur berada di tengah bangunan. Rumah kami memanjang dari kamar tidur orang tua di posisi paling depan, kamar tamu/ruang keluarga, dapur, dan dua kamar tidur anak-anak.

Sekarang kami sering makan bersama di sofa ruang keluarga dan tidak jarang pula makan bersama di meja makan. Ahmad yang autistik makan sendiri. Mungkin bagus juga kalau dibiasakan makan bersama-sama anggota keluarga yang lain, tapi itu tidak terjadi. Mbak Ais, mbak Asma dan mbak Tika kami biarkan saja kalau ingin makan sendiri di kamar.

Selera Makan

Orang tua saya dan orang tua istri saya sama-sama pernah berbisnis katering. Kami sudah terbiasa makan enak karena itu kami ahli makan enak. Artinya apa pun masakan Eva (ala Jawa Timur), saya selalu bisa memakannya dengan rasa enak. Demikian pula kalau saya sesekali masak, Eva bisa memakannya dengan rasa enak. Sebenarnya situasinya tidak bisa dikatakan saling mengalah karena Eva belajar masak dari orang tuanya dan juga belajar sendiri dari membaca berbagai buku masakan sedangkan saya belajar masak dari Eva.

Ada perbedaan prinsip dalam memasak. Eva berpendapat semua masakan ada namanya semisal soto dan ada dialeknya semisal soto Jogja atau soto Madura; setiap masakan dengan nama dan dialek tertentu sudah ada pakem resep bumbunya. Saya berpendapat selama masak untuk keperluan keluarga, tidak untuk dijual, maka tidak perlu mengikuti resep tertentu. Dalam praktek, perbedaan ini tidak menimbulkan masalah. Pakem resep berguna ketika menjamu tamu atau membawa makanan untuk suatu acara perjamuan; masak tanpa pakem berguna dalam kondisi darurat.

Kerapian Rumah

Mungkin ada hubungannya dengan latar belakang sebagai anak tentara, Eva bisa bekerja merapikan rumah dengan cepat. Mungkin ada hubungan juga dengan bakatnya melukis kaligrafi. Saya sendiri tidak bisa seperti itu. Meja kerja saya yang dirapikan seminggu sekali bisa berantakan dalam sehari. Susahnya anak-anak tidak bisa mengikuti kebiasaan ibunya.

Kami sering mempertanyakan mengapa dulu saya dan Eva bisa nurut orang tua dalam melakukan pekerjaan rumah tangga sedangkan anak-anak sekarang tidak? Sempat terpikirkan karena lingkungan, tontonan TV dsb. Sepertinya bukan itu. Yang jelas, dulu kalau tidak dibantu anak-anak, pekerjaan rumah tangga tidak bisa terselesaikan. Masa anak-anak saya sempat berada dalam lingkungan masak dengan kayu bakar. Cuci baju manual dengan pemerasan tangan (lama dijemuran untuk bisa kering). Setrika waktu itu menggunakan pemanasan dari arang batok kelapa. Tanpa bantuan anak-anak, pekerjaan rumah tangga tidak bisa selesai. Tidak ada tuntutan kesempurnaan hasil kerja anak-anak.

Sekarang kami dibantu mesin cuci dengan pemerasan spin, pakaian kering di jemuran dalam hitungan satu dua jam. Mulai setrika tinggal tancap listrik, selesai cabut kembali. Kompor gas 4 pit siap digunakan sewaktu-waktu. Setumpuk piring melamin dan panci non stick bisa tercuci dalam hitungan menit. Perintah kerja rumah tangga ke anak-anak semata-mata dalam konteks pendidikan saja. Dengan demikian kesempurnaan hasil kerja secara tidak sadar menjadi tuntutan orang tua. Kalau gak bisa bersih, taruh saja! Nanti orang tua yang cucikan.

Selera Berpakaian

Sepintas sederhana tapi sebenarnya urusan pakaian itu sangat kompleks. Saya pernah belikan oleh-oleh pakaian untuk istri dan anak-anak. Ternyata oleh-oleh itu tidak cocok. Ketidak cocokan mengakibat kekecewaan di kedua pihak, yang beli oleh-oleh dan yang menerimanya. Situasi menjadi lebih rumit kalau ketidakcocokan itu karena selera model/motif, bukan ukuran semata. Saya sering minta istri untuk ajak anak-anak bila akan belikan pakaian, tapi situasi tidak selalu memungkinkan membawa anak-anak ke tojo baju. Jahit sendiri pun menghadapi resiko tidak cocok. Karena resiko ada di kedua pihak, semua harus bisa mengalah.

Pendidikan Anak

Ternyata orang tua perlu menyampaikan harapan khusus sehingga anak merasa perlu berjuang untuk memenuhinya. Ungkapan: "terserah kamu nak, asal kamu bahagia, bapak ikut bahagia," justru membuat anak merasa tidak berguna bagi orangtuanya.

Banyak literatur yang membahas bagaimana mendidik keluarga (anak-anak). Setelah menjalani beberapa tahun, saya berkesimpulan kalau tidak banyak urusan yang bisa digeneralisasikan cara penanganannya. Saya merasa hanya satu saja yang punya solusi general yakni urusan penanaman nilai ahlaq mulia (jujur dsb). Secara umum saya bisa menerima kalau satu-satunya cara adalah melalui nasehat secukupnya dan selebihnya dengan praktek orang tua sehari-hari seutuhnya. Urusan selain penananam nilai ahlaq sangat situasional Salah satunya adalah tentang membuka kesempatan pada anak untuk berbuat sesuatu untuk orangtuanya. "Ilmu" itu saya dapat sebagai kesimpulan dari diskusi panjang dengan anak ketiga saya Atikah Prastowo yang sekarang sudah kelas 9 (kelas 3 smp denga skala lama).

Sering saat menyuruh anak membantu orang tua, saya mememberi embel-embel ungkapan: "ini untuk kebaikanmu agar saat harus mandiri kelak sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga." Sangat boleh jadi embel-embel ini tidak perlu disampaikan, cukup dalam hati saja. Biarlah anak berpikir bahwa orang tua minta bantuan karena memang memerlukan bantuan sehingga apa yang dilakukan anak itu memang benar-benar membantu orang tua, bukan training.

Karena amat sangat banyak aspek pendidikan anak yang memiliki variasi/alternatif cara yang banyak pula, kebolehjadian ada perbedaan pandangan antara bapak dan ibu sangat tinggi. Karena orang tua harus tampil satu di hadapan anak-anak, maka harus ada yang mengalah. Sangat boleh jadi semua harus mengalah untuk membuka peluang cara ketiga yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 5517 di