Manajemen Wayangan vs Manajemen Mantenan

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Manajemen Wayangan vs Manajemen Mantenan

Date: 08-12-12 04:11
Waktu mendapat amanah menjadi kepala PPTIK (dulu Puskom sekarang PSDI) saya menerapkan tipe manajemen pagelaran wayang kulit kontemporer. Dalang pegang kendali penuh tetapi urusan kendang, kempul, gong, gender, bonang dan persindenan diserahkan sepenuhnya pada kreativitas pemain masing-masing. Komunikasi langsung terjadi anara dalang dengan para niyaga (penabuh gamelan), sinden dan juga penonton. Dialog segmen tertentu bisa berkembang dari hasi komunikasi sesaat meskipun tidak pernah keluar dari pakem. Dalang dan segenap staff niyaga sama-sama duduk lesehan. Kursi disediakan untuk penonton. Hal lain yang perlu dicontoh dari pagelaran wayang kulit (atau orchestra yang lain), tidak pernah terjadi salah satu pemain instrumen musik mengganggu pemain instrumen musik yang lain.

Yang lain adalah tipe jagongan manten Solo. Pengunjung duduk manis dilayani sinoman. Tidak ada prasmanan karena sistem prasmanan memberikan sisa makanan yang datang duluan ke yang datang belakangan. Seluruh kegiatan terencana detail nyaris tanpa improvisasi.

Tipe lain lagi seperti jagongan manten Jogja kontemporer. Tidak masalah mau makan dulu atau belakangan, yang penting makanan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk dimakan sepuasnya. Kelemahan manajemen tipe ini tuan rumah tidak tahu apa yang terjadi di bawah. Event organiser telah memanjakannya dengan dekorasi, kursi, dan pelayanan istimewa. Undangan kasta VVIP tertentu bisa berlama-lama ambil foto dan duduk di tempat khusus yang lega. Tidak penting apakah tamu lain sudah mendapat tempat yang nyaman atau masih berjubel antri di pintu masuk.

Yang perlu diwaspadai adalah tipe manajemen dengan gejala menuntut fasilitas khusus untuk dirinya dan untuk dipersembahkan tamu-tamu khususnya. WC terpisah yang terjaga cleaning service, jalur Internet tersendiri dengan bandwidth besar. Manajemen seperti ini tidak akan langsung bisa tahu kalau WC yang digunakan bawahannya atau clientnya adalah WC kotor dan bau. Mareka tidak cepat tanggap kalau client mengeluhkan Internet lemot.

Pimpinan institusi yang memberi pelayanan harus menggunakan produk layanan sendiri. Bila ada layanan Internet, pimpinan harus menggunakan email institusi, blogging di server institusi serta surfing internet dengan kualitas yang sama dengan yang diberikan ke masing-masing klien. Semua keluhan yang dirasakan pegawai dan semua pemangku kepentingan (terutama klien) harus diraskan pimpinan lebih awal.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 6404 di