Heboh Pengajaran Matematika

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Heboh Pengajaran Matematika

Date: 23-09-14 12:13

Ternyata soal 4+4+4+4+4+4 = 4x6 = 24
menjadi sangat heboh. Orang saling menyalahkan sampai-sampai profesor dan pejabat Kemdikbud pun ikut komentar. Sebelum ikut saling menyelahkan barangkali perlu kita dalami latar belakang mengapa itu jadi heboh. Saya melihat urusan ini hanya sebagian kecil dari banyak perkara perndidikan yang melibatkan berbagai sisi. Berikut ini adalah perkara-perkara sempat terpikirkan, tidak harus ada hubungan langsung satu sama lain.

  1. Soal itu tidak lazim. Dulu saya memulai belajar berhitung dengan konsep bilangan untuk mencacah jumlah barang: 2 buku, 4 meja, 5 bola. Setelah itu dikenalkan operasi penjumlahan. Konsep perkalian dijelaskan sebagai penjumlahan berulang; 3x5 didefinisikan sebagai 5+5+5. Soal di atas meminta siswa mendefinisikan penjumlahan berulang sebagai perkalian.
  2. Nampaknya belum belum ada kesamaan pemahaman bahwa ekspresi matematika pada dasarnya merupakan salah saru bentuk ekspresi kita dalam berbahasa. Kesepakatan dalam cara menginterpretasikan ungkapan bahasa sangat penting demi kelencaran komunikasi antara penulis dan pembaca ekspresi matematika itu.
  3. Guru sekolah saya dulu, dan sangat boleh semua guru dari orang-orang seangkatan, mengajarkan cara mengerjakan soal. Soal seperti ini dikerjakan dengan cara begini. Dulu saya diajari cara menyelesaikan soal dengan istilah gunggung sungsun (penjumlahan bersusun), para gapit (pembagian dengan notasi jepit), dsb. Saya bisa menyelesaikan soal yang melibatkan bilangan-bilangan besar dengan menghafalkan cara-cara menyelesaikannya tanpa tahu persis mengapa begitu. Yang penting cara itu menghasilkan angka akhir yang benar. PR dan ulangan bisa dapat 10.
  4. Guru di kelas maupun di bimbingan belajar mengajarkan lebih banyak lagi cara-cara mendapatkan hasil akhir yang benar dalam waktu singkat. Cara-cara 'baru' ini sangat membantu siswa menyelesaikan soal-soal pilihan ganda dalam keterbatasan waktu yang disediakan dalam kegiatan ulangan atau ujian. Membidik pilihan benar menjadi jauh lebih penting dari memahami perkara yang dipersoalkan.
  5. Nilai dalam rapot dan ijasah punya harga ekonomi lebih dari sekedar cerminan kemampuan siswa. Juara kelas dapat hadiah. Nilai ijasah tinggi membuka peluang masuk sekolah favorit dst. Rupa-rupanya, dorongan untuk mengejar harga ekonomi dari nilai rapot/ijasah mendorong munculnya kreativitas mendapatkan nilai tinggi di luar jalur meningkatkan kompetensi. Alur pikir yang sama sedikit banyak bisa kita amati juga pada proses sertifikasi, akreditasi program studi, akreditasi institusi, kenaikan pangkat dan jabatan, dst.
  6. Perlu dipertanyakan mana yang lebih banyak memberi manfaat secara nasional: memahamkan konsep keilmuan sedikit demi sedikit sejalan dengan pertambahan usia dengan ketrampilan komputasi minimal saja atau melatihkan ketrampilan komputasi rumit sedini mungkin dan memahamkan konsepnya belakangan. Untuk menjawabnya perlu penelitian mendalam dan meluas, tidak sekedar opini atas dasar pengalaman dan pemikiran sendiri saja.
Mungkin masih banyak lagi yang harus didalami. Mari kita pikirkan bersama.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik AB6F di
  • 1. Kuliner Indonesia

    ini maksudnya gimana ya? saya masih bingung, hehe

    yang pertama 4+4+4+4+4+4=4x6=24

    menuru saya benar dan tidak harus diperdebatkan

    09-01-15 09:28