Efek negatif berpartai yang perlu diwaspadai

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Efek negatif berpartai yang perlu diwaspadai

Date: 31-01-09 04:43
Terus terang saat belakangan ini berkesempatan kontak lagi dengan teman-teman lama baik pertemuan langsung maupun melalui komunikasi elektronik, saya kaget mengamati dahsyatnya sentimen kepartaian. Boleh dibilang semua teman yang masuk dalam partai, baik secara langsung ataupun dengan kalimat sinis/bersayap dalam interpretasi
saya, mengungkap kejelekan oknum yang ada di partai lain.

Dalam suatu temu darat, saya sempat terbengong-bengong mendengarkan sahabat lama saya menggibah dengan penuh semangat korupsi yang dilakukan oknum partai lain. Dalam kesempatan lain ada teman dari partai yang dighibah gantian menggibah tindak korupsi yang dilakukan oknum partai penggibah. Saya benar-benar shock. Waktu itu saya masih berpikiran ini hanya oknum saja. Ternyata dalam banyak kesempatan lain, saya mengamati attitude serupa secara boleh dibilang merata. Sementara ini saya berkesimpulan bahwa melibatkan
diri dalam aktivitas partai berpotensi kehilangan kemampuan melihat kebaikan partai lain dan keburukanpartai sendiri. Naudzubillahimidzalik

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik C4D1 di
  • 6. dika

    nice thinking,,,,jarang yah dosen mipa yang sama pikiran politiknya kaya gini. sekarang agak susah melepaskan kampus dari pengaruh politik karena tenaga pengajarpun berpartai.

    24-02-10 05:07
  • 5. fafa

    "Sementara ini saya berkesimpulan bahwa melibatkan
    diri dalam aktivitas partai berpotensi kehilangan kemampuan melihat kebaikan partai lain dan keburukanpartai sendiri."
    Akhirnya ga ikut memilih (nyontreng ) ya Pak

    12-11-09 11:47
  • 4. komsi

    bener pak, kayaknya memang sudah menjadi attitudenya demokrasi, khomr (sesuatu yg memabukan) pun bisa jadi halal di negara penganut demokrasi.

    26-05-09 05:48
  • 3. dilan

    hhhmm....
    itu hal yang wajar. karena seperti itulah memang partai politik di era kapitalisme ini...ato d negara yg menganut sistem demokrasi ini...politik hanya d artikan sebagai kekuasaan semata. sangat jauh berbeda dengan Islam. klo dalam Islam, politik merupakan riayah su'unil ummah(mengurusi kepentingan umat). jadi orang yang berpolitik adalh orang yg mengurusi urusan umat. itulah dalam Islam.

    07-05-09 04:54
  • 2. Dedi

    Kemudian soal ghibah-mengghibah, serang-menyerang seperti biasa menjadi komoditi panas media publikasi. Hahaha.. bangsaku.

    03-02-09 03:12
  • 1. koko

    Betul pak. Mungkin kl di bilang keseruruhan juga tidak. Bagaimana berpartai itu justru sangat2 mengagungkan ashobiyah. Tidak perduli partai nasionalis, sosialis bahkan yg menyatakan diri partai dakwahpun demikian. Ada oknum2 yg memang harus diwaspadai.

    Coba pak bambang kunjungi http://pkswatch.blogspot.com, ada kritikan2 cerdas yng tidak bisa terbantahkan, pada partai (yg mendeklarekan) dakwah ini.....

    hati-hati dan minta petunjuk Allah, itulah yg terbaik

    02-02-09 08:23