Perusakan Bisnis Model Sharing Ekonomi yang tidak Mengganggu

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Perusakan Bisnis Model Sharing Ekonomi yang tidak Mengganggu

Date: 26-03-16 07:21

Kemenangan bisnis search engine Google ada pada kekuatan analisa big datanya untuk memasangkan:

  1. penyedia jasa informasi dan hiburan,
  2. masyarakat penikmat informasi dan hiburan, serta
  3. pemasang iklan;
sedemikian hingga masing-masing pihah bertemu dengan target audience, mitra, dan customer mendekati kesesuaian dengan yang diharapkan. Dengan mengikuti aturan sesuai dengan rancangannya, semua pihak diuntungkan. Biaya beriklan tidak sia-sia, penyedia jasa informasi dan hiburan mendapat imbalan pantas, masyarakat cepat bisa menemukan informasi, hiburan, serta produk barang dan jasa yang diperlukannya.

Gangguan datang dari penjahat yang memanfaatkan celah mekanisme operasional bisnis untuk mengambil keuntungan dengan cara di luar aturan main yang seharusnya. Akibatnya keharmonitas kerjasama 3 elemen pengguna Internet itu menjadi rusak. Hasil search sering melenceng ke website yang tidak tidak diinginkan pengguna. Klik ke link iklan tidak berasal dari anggota masyarakat yang membutuhkan layanan yang diiklankan dan pemillik website populer tidak mendapatkan imbalan yang seharusnya. Sampai sekarang pihak Google terus update mekanisme proteksi bisnis yang bisa meminimalkan akibat buruk dari kegiatan para penjahat. Dan para penjahat terus berusaha memperbaiki modus kejahatannya untuk bisa menembus mekanisme itu.

Gangguan terdahap model bisnis yang seharusnya membawa kemenangan pada semua pihak itu juga terjadi pada yang sekarang sedang diperbincangkan umum yakni fenomena 'taksi' Uber dan Grab serta 'hotel' Airbnb. Model dasar bisnis Uber dan Airbnp adalah mempertemukan pemilik mobil dan kamar tidur ekstra yang jarang dipakai dengan mereka yang memerlukan jasa transportasi dan penginapan. Melakui sistem aplikasi online itu, tambahan penghasilan bagi pemilik barang bertemu dengan berkurangnya biaya sewa yang harus dikeluarkan pengguna. Pengelola sistem online mengutip jasa ala kadarnya dari setiap transaksi yang terjadi.

Gangguan pada sistem sewa barang tidak terpakai ini terjadi dalam bentuk perilaku orang yang dengan menyengaja membeli barang (mobil atau rumah) dengan pembayaran cicilan untuk diikutkan ke sistem Uber atau Airbnb. Biaya cicilan diambilkan dari hasil perolehan pengguna mobil atau rumah itu. Mengapa harga sewa masih bisa lebih murah dari pengusaha taksi dan hotel konvensional? Persyaratan kualitas gedung dan mobil untuk digunakan sendiri (tapi kemudian disewakan) tidak seketat persyaratan pengadaan gedung dan kendaraan khusus untuk disewakan. Sering orang bisa mendapatkan subsidi dalam membangun rumah atau bahkan pengadaan kendaraan untuk keperluan pribadi. Pengelola aplikasi online ini tidak membatasi bagaimana mitra memperoleh barang yang dipinjamkan. Secara umum mereka mengatakan hanya lah mempertemukan pemilik barang tidak terpakai dengan yang membutuhkannya. Bagi pengelola Uber dan AirBNB, ini seperti mendapatkan tambahan pinjaman usaha tanpa menanggung resiko pinjaman sama sekali.

Berbeda dengan kasus Google, 'gangguan' terhadap model sewa kamar dan mobil pada Airbnb dan Uber tidak benar-benar mengganggu bisnis mereka. Dapat dikatakan itu justru memperbesar lingkar bisnisnya. Semakin banyak mitra semakin baik karena masih banyak konsumen hotel dan taksi yang dengan senang hati mengalihkan pembayaran sewanya ke sistem yang lebih murah. Untuk menutup biaya operasional, taksi dan hotel yang mulai kehilangan konsumen tidak begitu saja bisa menurunkan tarif untuk meningkatkan daya saing yang pada gilirannya akan semakin memperkuat perkembangan bisnis baru model Uber dan Airbnb. Suatu pergeseran yang tidak bisa (atau tidak seharusnya) dibendung.

Kemana arah ke depan? Bagaimana kita mengantisipasinya? Sebelum era Internet kita mengenal media massa koran dengan segala macam berita dan hiburan baik yang bersifat umum seperti Republikas, Kompas, Kedaulatan Rakyat maupun yang khusus semisal Pos Kota dan Minggu Pagi. Informasi tematik ditampung majalah seperti Trubus, Femina, Bobo, Kawanku dan sebagainya. Majalah/harian yang hadir melalui Internet tidak berasa sebagai pesaing karena tidak tumbuh secara tiba-tiba dan menggunakan media yang sama sekali berbeda. Koran/majalah tradisionil menyurut secara natural. Barangkali mereka bisa belajar bagaimana industri perfilman mencari jalan kehidupan baru ditengah hantaman televisi dan Internet.

Apa masalahnya? Peredaran media massa tradisionil dalam bentuk produksi fisik kertas bisa dikontrol baik oleh pemerintah melalui ijin terbit maupun masyarakat melalui tuntutuan pemisahan tempat penjualan majalah dewasa dari majalah umum misalnya. Pemisahan secara fisik media berbasis penerbitnya memudahkan kita memilih yang cocok untuk diri sendiri dan keluarga. Di Internet secara fisik semua campur aduk dalam tampilan web browser. Mustahil bisa dilakukan penyensoran baik formal maupun informal. Itu tantangannya.

Bagaimana dengan Uber dan Airbnb? Kedua layanan ini tetap menggunakan media fisik. Internet hanya sebagai sarana transaksinya saja. Itu lah sebabnya hantaman bisnisnya berasa frontal. Kedepan pengusaha taksi dan hotel tradisionil akan lebih agresif dalam pemanfaatan Internet untuk meraih pelanggan (tidak sekedar homepage basa-basi seperti banyak kita jumpai sekarang). Bagi pelanggan mereka sudah punya nama dan standar kualitas pelayanan. Itu saja yang ditingkatkan sampai ke level penyediaan armada cadangan untuk jam sepi. Uber dan Airbnb akan lebih selektif dalam memilih mitra agar pelanggan tetap percaya akan kualitas layanannya, ini artinya tidak bisa lagi menetapkan harga sewa rendah.

Bagaimana dengan regulasinya? Arah deregulasi bisnis tidak bisa dibendung. Yang perlu diperketat adalah aturan syarat keamanan dan kesehatan pembangunan rumah dan pembuatan kendaraan yang diberlakukan sama baik untuk tempat yang disewakan maupun tempat tinggal/kendaraan pribadi. Subsidi perumahan untuk tempat tinggal harus diawasi jangan sampai disalahgunakan untuk membangun rumah sewa dan sebagainya.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 1FC1 di
  • 1. atap upvc roof

    Itu benar, dengan terbukanya era teknologi yang transparan saat ini membuat semua orang dapat melihat dengan jelas. Terlebih dengan menggunakan search engine saat ini semua bisa mendapatkan informasi dengan akurat sehingga hal ini dijadikan sebagai pangsa pasar oleh para pebisnis yang memiliki kepekaan akan peluang yang tepat. Jujur hal ini juga memberikan kontribusi yang baik kepada saya secara pribadi karena tidak hanya mencari informasi, tetapi berbagai barang elektronik, atap upvc roof ataupun spare part dan berkat bantuan search engine saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.

    26-07-16 02:48