Disonansi Kognitif

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Disonansi Kognitif

Date: 21-11-16 01:48
Sudah sejak lama saya menggemari komik dilbert.com yang boleh dibilang setiap hari menayangkan satu strip komik humor baru dengan tema seputar gesekan pegawai dan atasannya di tempat kerja suatu perusahaan teknologi. Scott Adam, pembuat komik itu pastilah sangat cerdas karena ada saja kejadian sehari-hari mirip dengan yang kita alami bisa dia angkat dalam tayangan strip komik yang berasa lucu.

Selain komik, Adam juga menulis blog. Kira-kira satu setengah tahun lalu, awal proses pemilihan presiden di Amerika, dia mendedikasikan blognya untuk membahas perilaku kandidat presiden. Yang menarik, sejak awal dia sudah membuat prediksi pilihan akhirnya adalah Hillary Clinton dan Donald Trump. Sejak awal pula dia sudah memprediksi atau terkesan memprediksi kemenangan Trump karena nadanya konsisten mengkampanyekan Trump.

Prediksi Adam atas kemenangan Trump didasari pada 2 hal:
1. Masyarakat pemilih tidak rasional, lebih emosional
2. Clinton banyak membuat paparan permasalahan dan solusi kongkrit rasional; Trump fokus memberi janji mengatasi kekhawatiran masyarakat seperti ketenagakerjaan, kekalahan bersaing dengan Cina, terorisme, dan semacamnya. Solusi yang ditawarkan tidak perlu disertai perhitungan rasional, masyarakat tidak suka fakta karena tidak membangun optimisme.

Ada dua istilah psikologi yang diulang-ulang oleh Adam: yakni konfirmasi bias dan disonansi kognitif. Konfirmasi bias adalah kondisi dimana suatu kejadian dipersepsikan sebagai konfirmasi yang memperkuat suatu pendapat. Dari awal, tim kampanye Trump menyampaikan \"tuduhan\" Crooked Hillary. Hillary Clinton dipersepsikan sebagai politisi licik. Mereka menggali seluruh kegiatan Clinton di masa lalu dan meneliti pidato-podatonya untuk diambil potongan-potongan yang dapat dipersepsikan mendukung teori bahwa Clinton itu licik.

Belajar dari triknya Trump, tim kampanye Clinton mulai membangun citra bahwa Trump sebagai monster yang sangat berbahaya bila diberi kekuasaan untuk bisa mengambil keputusan menekan tombol bom nuklir. Jadilah masa kampanye presiden Amerika 2016 itu sebagai pertarungan Crooked Hillary vs Monster Trump. Sekali kesan crooked atau monster itu sudah terpatri, segala perbuatan dan perkataan yang bersangkutan selanjutnya berasa membenarkan kesan itu bagi masing-masing pendukung lawan politiknya.

Disonansi kognitif terjadi ketika pada pendukung Clinton disajikan fakta bahwa Trump punya visi kenegarawanan yang kuat. Atau pada pendukung Trump disajikan fakta bahwa FBI berkesimpulan tidak ada unsur kriminal pada digunakannya email pribadi untuk komunikasi kenegaraan oleh Clinton. Ketika disonasi kognitif terjadi, sedikit saja orang yang menanggapinya dengan mengubah pendapat yang telah terpatris sebelumnya. Sebagian besar akan membangun khayalan tertentu yang dipakai sebagai landasan menjelaskan fakta-fakta baru yang disodorkan padanya.

Rupa-rupanya kenyataan bahwa masyarakat tidak bisa diajak berpikir rasional ini dimanfaatkan betul oleh tim kampanye politik di Indoensia. Tulisan ini saya sampakan sebagai upaya mengajak teman-teman semua untuk menyadari sifat irrasional manusia tersebut dan mencoba untuk membuka diri melihat kemungkinan ada kesalahan pada kesan yang telah terbentuk di pemikiran kita tentang seseorang tokoh atau suatu partai atau suatu organisasi massa. Apa bila ada fakta baru yang kita dapat dan terjadi disonansi kognitif, kita coba membangun pemikiran baru secara rasional.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 2DD7 di