A-a, i-i, abe!

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

A-a, i-i, abe!

Date: 18-10-08 08:23
Tiap kali saya keluar rumah, Ahmad selalu ikut menghantar sampai di halaman. Pada dasarnya dia selalu keberatan kalau saya tinggal. Kadang ada pikiran GR bahwa Ahmad sayang bapaknya. Yang jelas, dia membutuhkan seseorang yang dapat membantu ketika ada kesulitan dalam pemakaian Komputer. Saya tidak tahu persis maksudnya, setelah yakin bapak pergi, Ahmad meneriakkan: "A-a, i-i, abe!"

Barangkali Ahmad berpikiran kalau jalan di depan rumah itu satu arah. Karena itu, setiapkali saya keluar rumah, dia selalu memberi perintah: "Kanan ya!"

Kalau menggunakan mobil besar memang harus ke kanan. Saya pernah memaksakan bawa Carnival lewat lapangan (artinya belok kiri saat keluar rumah), jadinya rumit juga pada tikungan depan gardu ronda. Repotnya, saat bawa sepeda pun saya harus belok kanan. Kalau dituruti, sayang juga keringatnya karena selisih jarak untuk jalur ke kanan dengan yang ke kiri mungkin mencapai sekitar 1 km. Untuk menghindari ekstra 1 km, ibunya Ahmad perlu ikut keluar. Saya akan balik lagi ke kiri setelah ada kode Ahmad sudah 'diamankan.'

Kesadaran Ahmad akan keberadaan proses negosiasi sosial muncul dalam banyak bentuk. Salah satunya adalah kesadaran dia bahwa tangis dapat digunakan sebagai modal bernegosiasi. Setelah menyadari bahwa modal dia tidak cukup untuk menahan bapak di rumah, ide "menguasai" bapak masih muncul dalam wujud perintah belok kanan itu. Saya melihat ini suatu kemajuan besar dalam perkembangan sosial Ahmad. Kemajuan ini seiring dengan munculnya kemampuan Ahmad untuk diperintah.

Bila menghendaki benda tertentu, Ahmad biasanya hanya menyebutkannya berkali-kali sampai ada orang lain yang mencarikan benda itu dan menyerahkannya ke dia. Ini bisa sangat menjengkelkan meskipun tidak ada diantara kami, orang tua dan saudara-saudaranya yang benar-benar menjadi jengkel. Pasalnya Ahmad sering meletakkan benda-benda modal kerjanya sembarangan: kampus elektronik Alpha Lini, HP Motorola, dan kamera digital Brica. Bila membutuhkan, Ahmad teriak: "HP Ah-ya, ya!" atau "Kamera Ah-ya, ya!"

Dalam banyak konteks, kami memang sering mengakhiri omongan dengan "ya !"
"Ahmad mandi dulu, ya?"
"Kentang goreng ya?"
Mungkin karena itu, setiap omongan Ahmad (sampai sekarang belum mampu berartikulasi dengan benar) selalu diakhiri dengan "ya!"

Sekarang kami (orang tua dan saudara-saudara Ahmad) bisa pula bernegosiasi. Setiap Ahmad minta sesuatu, kami bisa menjawabnya dengan: "Cari di meja komputer bapak!" atau "Cari di kamar mbak Ais!"
Biasanya dia tidak berkeberatan pergi ke tempat yang disarankan tersebut untuk mencari barang yang dikehendakinya. Ini kemajuan besar!

Kami beruntung. Permintaan belok kanan saat ke luar rumah sangatlah ringan. Ada teman yang dilarang duduk oleh anaknya yang autis. Bayangkan! Kita hanya bisa duduk di rumah saat anak kita tidur. Bagaimana kalau tidurnya hanya sebentar? Sebegai sesama orangtua anak autis hati kami tertawa saja mendengar cerita ini. Ada masa-masa sangat berat, ada masa-masa sangat terhibur. Ini lah dinamikan kehidupan yang saya yakin dialami oleh semua orang. Mendapat amanah mengasuh anak autis hanya lah bagian dari dinamika pada keluarga kami.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 65D3 di
  • 2. yazidisme

    Salut, buat orang2 yg telah dengan sabar dan ikhlas mengasuh anak autis..
    bukan pekerjaan yg gampang

    12-11-08 03:18
  • 1. Eko SW

    subhanallah, begitu ya Pak?

    Tidak bs berkomentar lebih lg

    25-10-08 01:33