Bambang Nurcahyo Prastowo

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Kemerdekaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Date: 02-08-07 08:50

Beberapa waktu lalu, saya mendapat wawancara dari majalah e-Indonesia. Berikut ini versi hasil wawancara yang saya edit sedikit. Esensinya masih sama dengan yang untuk majalah e-Indonesia.

1.Bagaimana menurut Anda kondisi TIK kita saat ini – dilihat dari:

a.Pembangunan infrastruktur

Belum menggembirakan. Pengalaman pelaksanaan program pemerintah Inherent (Indonesian Higher Education Network) sebagai jaringan komunikasi data nasional memberi pelajaran bahwa pengembangan infrastruktur tidak semata-mata menggelar kabel, memsang tower dan mengkonfigurasi router. Bicara TIK berarti bicara jaringan komunikasi data. Listrik yang stabil sebagai syarat mutlak kehidupan komunikasi data elektronik belum bisa terpenuhi secara nasional.

b.Geliat Industri TIK di Tanah Air (hardware, software, dll)

Untuk sementara saya kira kita tidak perlu bicara hardware dulu. Geliat industri software dapat kita lihat di nyata di pengembangan sistem informasi manajemen pemerintahan. Jarang kita temui pengembangan sistem software pemerintah daerah dikerjakan konsultan asing. Artinya konsultan Indonesia telah bebas merdeka dalam mendapatkan kepercayaan penuh untuk menggarap pasar software pemda. Momentum ini harus kita tingkatkan terus agar keluhan-keluhan rendahnya mutu produk dan layanan purna jual tidak mengakibatkan penurunan kepercayaan pemerintah/pemerintah daerah pada pengembang lokal.

c.Regulasi

Menurut hemat saya memang harus ada undang-undang yang secara khusus memberi pengakuan bahwa digital material memiliki sifat khusus sedemikian hingga tidak bisa diperlakukan sama dengan material lainnya. Saya pernah membeli software driver printer dari Internet tanpa pernah memikirkannya sebagai kegiatan import. Saat ini boleh dikatakan tidak ada regulasi yang secara khusus mencerminkan pengakuan kekhususan sifat digital material tersebut. Yang menarik adalah, tanpa regulasi dari pemerintah, beberapa institusi telah melangkah dengan membuat aturan main/kontrak perjanjian sendiri.

d.Content

Agaknya perlu ada sedikit pemaksaan pada pelaku TIK nasional agar lebih memperhatikan kualitas layanan content (mail, web, dan instant messaging). Saat ini boleh dikatakan semua digital material yang beredar/diproduksi di Indonesia tersimpan rapi di Google atau Yahoo. Saya tidak bicara content web yang memang dengan sadar dipublikasikan. Saya bicara content email. Saya sangat merisaukan fenomena sementara orang yang tidak punya rasa was-was saat mengkomunikasi data-data sensitif melalui Yahoo atau Google mail. Mereka, melalui perjanjian yang dipaksakan pada pengguna, memiliki hak eksklusif untuk melakukan riset pada content yang ditempatkan dan/atau dilewatkan layanan yang mereka berikan. Yahoo/Google mail/mailing-list tidak gratis! Kita menggunakan layanan itu dengan bayaran yang sangat mahal. Kampaye penyediaan jasa layanan mail web dan im hosting nasional yang handal perlu terus dilakukan baik pada penyedia jasa masional maupun pada pengguna TIK di Indonesia.

2.Sudahkah perkembangan yang ada sesuai dengan semestinya (dilihat dari awal mula Indonesia mulai consern mengembangkan TIK. Bila perlu bisa dibandingkan dengan negara lain yang mengawali pembangunan TI tak jauh berbeda dengan kita)

Kata “semestinya” memerlukan tolok ukur. Biasanya tolok ukur tersebut ada dalam suatu dokumen perencanaan. Kita melihar sesuai atau tidak dengan mencocokan apa yang terjadi dengan apa yang tertulis. Masalahnya kita tidak punya dokumen perencanaan TIK nasional. Jangan nasional, internal institusi terkecilpun masih jarang yang memiliki dokumen perencanaan TIK. Yang semestinya itu seperti apa?

3.Jika belum, apa yang menurut Anda menjadi kendala?

Kendala utama adalah belum tumbuhnya kesadaran bahwa TIK punya nilai strategis. Banyak renstra mencantumkan pengembangan TIK sebagai langkah strategis strategis. Menurut pengamatan saya, pencantuman ini lebih bersifat mengikuti “template” renstra dari luar Indonesia dari pada tumbuh dari kesadaran/kebutuhan sendiri.

4.Memang idealnya, saat ini perkembangan TIK seperti apa? (Mohon dijelaskan secara detail) Idealnya wah... saya belum punya gambara indeal ini.

5.Faktor apa saja yang harus menjadi perhatian sehingga dapat mempercepat pertumbuhan TIK kita?

TIK akan tumbuh pesat apabila masyarakat memang membutuhkan. Kebutuhan TIK muncul apabila masyarakat cukup terdidik untuk menyadari adanya pemisahan kerja mekanistik dengan kerja kreatif. Saat ini masih dipandang normal untuk mengetikkan dokumen undangan pertemuan satu persatu. TIK yang semestinya membantu menggantikan kerja mekanistik (semisal dengan konsep mail merge) agar orang bisa memasuki wilayah kreatif dipandang tidak sejalan dengan sifat kebutuhan pasar tenaga kerja yang bersifat padat karya.

6.Adakah terobosan/gebrakan yang Anda sarankan?

Memperbanyak aktivitas TIK yang bersifat pengembangan content karena kerja content selalu padat karya. Semakin banyak orang disibukkan dengan kerja kreatif pengembangan content, semakin nyata kebutuhan pengembangan TIK sebagai alat bantu otomasi kerja mekanistik. Dengan demikian akan semakin banyak data terbangun dari kerja komputer. Pada akhirnya, dengan modal data-data TIK yang lengkap, pemerintah pusat/daerah dan semua institusi akan dapat membuat perencanaan pengembangan kualitas layanan secara lebih akurat.

7.Bagaimana dengan persoalan digital divide, apa yang perlu segera dilakukan?

Saya meyakini bahwa digital divide terkorelasi langsung dengan listrik divide. Segera setelah pasokan listrik bisa merata ke seluruh institusi yang membutuhkan, penutupan jurang digital akan terlaksana dengan sendirinya secara natural.

8.Bagaimana dengan perhatian presiden terhadap kondisi TIK kita? Apakah Presiden sudah cukup dengan memberi perhatian, terutama dengan dipenuhinya tuntutan agar kementrian kominfo dijadikan departemen dan dibentuknya DTIKN?

Sampai sekarang, di satu sisi saya masih merasalan pandangan TIK sebagai lahan empuk untuk mengadakan kegiatan/proyek. Di sisi lain, kesadaran kebutuhan TIK juga belum merata sehingga program-program kegiatan TIK sering menjadi sasaran pemotongan untuk dialihkan ke pendanaan kegiatan non TIK. Kementrian Kominfo dan Detiknas tidak lepas dari pendangan ini. Di satu sisi membuka peluang untuk mengadakan banyak proyek namun di sisi lain urgensi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut belum menempati prioritas utama sebagaimana banyak ditemui di berbagai rencana strategis di negeri lain.

9.Jika dianggap perhatin presiden masih kurang, apa kira-kira yang masih perlu Presiden benahi dan lakukan?

Pertama membentuk tim kreatif kepresidenan dengan kompetensi analisa data dan penyusunan model-model perkembangan. Kedua memerintahkan semua departemen untuk memberikan hak akses read only dari semua basis data sistem informasi manajemennya kepada tim kreatif TIK kepresidenan. Segera mempublikasikan nilai-nilai indikator keberhasilan kerja pemerintahan secara terbuka.

10.Dengan berbagai fakta yang ada, menurut Bapak, apakah TI kita sudah merdeka?

Sudah. Bahkan sudah terlalu merdeka. Kita bebas merdeka untuk belanja dan menggunakan TI di Indonesia. Sebagaimana kemerdekaan Republik Indonesia itu sendiri, yang menjadi masalah utama adalah mengisi kemerdekaan itu dengan aktivitas yang positif dan produktif.

11.Bila ada hal penting, mohon disampaikan?

Mengulang yang telah saya tuliskan diatas:

1.Tekankan pentingnya menyediakan layanan mail, mailing-list, instant messaging dan web hosting yang handal pada para penyedia jasa dan kampanyekan pentingnya menghindari penggunaan layanan komunikasi data dari perusahaan luar negeri untuk urusan internal dalam negeri.

2.Perkuat para konsultan nasional yang banyak bekerja membantu pemerintah pusat dan daerah agar tetap dapat dipercaya. Konsentrasikan kekuatan industri TIK nasional pada jasa pengembangan software khusus. Indonesia bukan tempat penjualan produk paket software karena kebanyakan sudah terlanjur beranggapan bahwa produk software pasaran bersifat gratis.

3.Sibukkan masyarakat TIK dengan kerja padat karya pengembangan content agar muncul kebutuhan otomasi kerja TIK yang mekanistik sehingga SDM dapat mengkonsentrasikan diri pada aktivitas TIK yang kreatif.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 05C6 di
  • 2. A.ARRY YAN DARUSSALAM

    PAK TOLONG MASUKAN SEJARAH HP ATAU SEJARAH TELEKOMUNIKASI SEBELUM MODERN SAMPAI SAAT INI. KARENA SAAT INI SAYA BUHUN SEKALI SEJARAH TERSEBUT. TERIMAKASIH.

    24-10-07 01:45
  • 1. afzal

    hanya berterimakasih pak haisl wawancaranya menambah wawasan saya, walaupun belum puas, terimakasih

    07-10-07 11:38