Wawancara UGM Goes Opensource

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Wawancara UGM Goes Opensource

Date: 25-01-07 08:39 Ada email yang mengirimkan pertanyaan wawancara tentang UGM Goes Opensource. Berikut ini jawaban saya.

tuan luki wrote:
> UGM). Begini, kami mau menanyakan tentang komitmen UGM untuk
> mengembangkan Open Source pasca habisnya kontrak Microsoft dengan UGM.
> Kalau tak keliru namanya UGOS kan, pak?

Sebenarnya nama ini muncul begitu saja dari IGOS. Huruf U kita maksudkan sebagai UGM tetapi bisa juga berarti universitas secara umum.


> Sebelumnya mohon maaf pertanyaannya saya ajukan via email, karena saya
> mendapat kabar dari staf TU PPTIK bapak sedang ke luar Kota.
> pertama, bagaimana mulanya ide UGOS itu muncul? (tentu kemunculannya
> jauh sebelum habisnya kontrak dengan Microsoft kan?)

Ide pemanfaatan produk free and opensource software (FOSS) muncul pada saat UGM mulai memusatkan perhatian pada hak kekayaan intelektual yang dimiliki sivitas akademika. Dari situ muncul kesadaran sebelum minta penghargaan dari orang lain, kita harus mulai bisa menghargai orang lain. Permasalahan cepat mengerucut pada kenyataan bahwa di UGM masih banyak dijumpai tindak kejahatan pembajakan material digital. Persoalan disederhanakan menjadi pilihan menandatangani Microsoft Campus Agreement (MSCA) atau Go Opensource. Kebetulan pada waktu itu piha Microsoft mulai gencar mendatangi perguruan-perguruan tinggi untuk mengkampanyekan MSCA. Keputusannya, kita tandatangani MSCA untuk jangka terpendek yang waktu itu disepakati 3 tahun untuk memberi kesempatan pada warga UGM menganalisa plus minusnya MSCA dan Go Opensource yang kadang disebut dengan OSCA (Opensource Campus Agreement -- hanya saja ini agreement diantara kita sendiri)

Waktu 3 tahun ini cukup ideal untuk mempersiapkan dan mengimplementasikan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan migrasi ke opensource. Dalam praktek, penandatangan MSCA justru meninabobokkan pengguna komputer di lingkungan kampus untuk tidur dari pemikiran legalisasi software. Lebih parah lagi, penandatangan MSCA yang dimaksud sebagai upaya legalisasi software campus pada prakteknya justru memberi rasa aman pada warga untuk membajak semua software berplatform Microsoft Windows. Pada hal, MSCA UGM hanya melindungi penggunaan Microsoft Windows dan Office saja.


> kedua, apa target UGOS (apakah mengganti seluruh perangkat lunak yang
> ada di UGM, atau hanya sebagian saja, yang dibeli pasca habisnya kontrak?)

Target UGOS:

1. Semua komputer yang saat pengadaannya tidak dilengkapi pembelian lisensi penggunaan software Microsoft Office akan dilengkapi dengan OpenOffice.org.

2. Semua komputer yang saat pengadaannya tidak dilengkapi dengan lisensi penggunaan sistem operasi Windows akan dijalankan dengan sistem operasi opensource (dalam hal ini Linux).

3. Semua komputer yang digunakan untuk pengolahan data statistik akan dilengkapi dengan sistem pengolahan data statistik R-base.

4. Pada setiap pembelian sistem software berbasis Windows yang hendak dipasang pada komputer yang belum berlisensi Windows harus memasukkan pula pembelian lisensi sistem operasinya.


> ketiga, apa saja program yang dicanangkan atau yang sedang dan akan
> dilaksanakan? ada berapa tahap? apa saja?

Pada tahun 2005, kita banyak melakukan pelatihan-pelatihan sistem OpenOffice.org pada staf pendukung di lingkungan kampus UGM. Pada tahun 2006, pelatihan dilanjutkan untuk mengenal sistem operasi Linux dan sekaligus telah dimulai program instalasi OpenOffice di Windows dan Linux (sudah termasuk OpenOffice) pada komputer-komputer yang telah diprogramkan untuk menggunakan FOSS oleh penanggungjawabnya. Pada tahun 2007, UGOS konsentrasi pada instalasi sistem.


> Siapa sasaran program tersebut? dan siapa prioritas utamanya?

Sasaran program tersebut adalah staf akademik dan staf pendukung. Untuk tahap awal, program kita prioritaskan pada staf pendukung dengan asumsi para dosen dapat bermigrasi ke opensource dengan pola autodidak.


> kendala utamanya? (mungkin soal \"kebiasaan\") dan bagaimana mengatasinya?
> ada sedikit tips untuk warga kampus atau orang yang ingin beralih ke
> Open Source?

Kendala utama adalah kenyataan bahwa migrasi ke FOSS merupakan kerja yang menyangkut mengubahan kebiasaan. Mengubah kebiasasan penggunaan Windows ke Linux cukup berat meskipun tidak seberat perubahan kebiasaan penggunaan DOS ke Windows atau dari Lotus 123 ke Exel. Isu biaya lisensi belum cukup menjadi motivasi pada warga UGM untuk bermigrasi. Kami, para da\'i FOSS, mulai mengusung motivasi nasionalisme, meningkatkan daya saing bangsa dan sebagainya.

Tips untuk migrasi ke FOSS:

1. Sadari sepenuhnya bahwa migrasi ke FOSS tidak berimplikasi menyia-nyiakan dokumen-dokumen yang ada. Artinya, OpenOffice.org dapat membaca dan meyunting dokumen-dokumen doc, xls dan ppt sama baiknya (bahkan lebih baik dalam pengertian tidak terganggu oleh keberadaan virus di dokomen tersebut) dengan Microsoft Office.

2. Meskipun teorinya kita bisa memasang Linux berdampingan dengan Windows di komputer yang sama, saya sarankan jangan lakukan itu. Ganti sistem operasi Windows dengan Linux seutuhnya. Keberadaan Windows di komputer akan selalu menggoda kita untuk menggunakannya tiap kali kita berhadapan dengan persoalan baru. Tanpa Windows, kita hanya perlu waktu 2 minggu - 1 bulan untuk mastering Linux. Dengan Windows, kita tidak akan merasa perlu membaca manual atau bertanya ke orang lain tentang cara-cara melakukan sesuatu di Linux.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik C6A1 di
  • 18. ZAHRA

    Om.... saya minta tolong ci......
    om bisa gak bantuin saya cari program pengolahan kata sebelum microsoft office,beserta penjelasannya. kalau om gak bisa atau repot, dimana ci nyarinya??????

    15-01-08 10:11
  • 17. arnal

    om.. bisa cariin program sebelum microsoft office gak?

    15-01-08 10:10
  • 16. tery_mh

    berikan contoh
    program jadi dari pembikinan form dan projectnya

    02-11-07 09:29
  • 15. asep sugiantoro

    saya makin bingung dengan programing, apa karena saya baru masuk kuliah ?

    16-08-07 04:22
  • 14. SUPRIYATIN

    Saya mau minta tlong kepada semua khusus ahlinya ada yng bsa ngirimi saya tutorial defreze dan gos ga.pleaze send to e-mail:supri2185@yahoo.co.id.Thank's

    24-07-07 10:57
  • 13. distrolinux

    mau tau artikel terkini soal FOSS, Linux, GNU, BSD dan opensource sekaligus bisa beli CD Linux dan BSD semua varian?? silakan masuk ke www.bukabuku.org ..

    12-07-07 09:44
  • 12. Ardiansyah

    Ayo pak berlomba dengan ADGOS (UAD Goes Open Source)

    11-06-07 11:18
  • 11. ANTY

    TOLONG DONG KIRIMIN YG LEBIH LENGKAP

    27-04-07 10:07
  • 10. JADUNG

    KURANG JELAS TENTANG SUSE 10.0

    20-04-07 03:44
  • 9. LIONE6

    TOLONG...DONK, AKU MINTA SPESIFIKASI UNTUK SUSE 10.0

    20-04-07 03:41
  • 8. lesda

    tolong kirim informasi lengkap ttg suse 10.0 berikut cara instalasi.okehhhhh
    thanks

    20-04-07 03:37
  • 7. Dion

    Saya mau coba

    12-04-07 11:02
  • 6. wine

    jangankan yg dibuat dengan visual basic pak, winamp (program pemutar mp3 di windows) saja bisa dijalankan dengan mulus menggunakan wine

    14-03-07 01:29
  • 5. prastowo

    Ngomong-ngomong soal Wine, saya ingin tahu seberapa maju sistem program ini? Apakah sudah cukup stabil untuk menjalankan program-program yang dicompile dengan Visual Basic?

    09-03-07 04:23
  • 4. AGie di wanaguna@dephut.go.id

    UGOS?? menarik juga

    Bagaimana dengan driver hardware? Semoga

    saya Newbie pake Linux yaitu PuppyLinux. ternyata Linux bagus dengan emulator wine saya masih bisa menggunakan program2 saya yang bisa jalan di windows

    09-03-07 04:01
  • 3. pramur

    @ seagate
    Waaa... Kenapa jadi lemah semangat begitu Pak? Kalau mau didaftar, banyak sekali hal-hal yang saya belum bisa dapatkan dari Sistem Operasi Gratis (dan jelas kehalalannya, setidaknya menurut MUI) ini. Semisal belum bisa ngeprint image (masih dari OpenOffice, masih harus diimport dulu), FreeMind belum jalan (ini saya sedang menanyakan ke founder Kuliax, Boss Esteween, sekaligus ketua KPLI Jogja), dan segudang masalah lain yang belum bisa dapatkan solusinya.
    .
    Salah satu solusi, mungkin kita masih perlu yang "arane" komunitas, internet ala kadarnya, dan segunung jiwa besar untuk menerima filsafat berbagi dan dibagi, demi migrasi sepenuhnya. Di notebook saya juga masih ada windowsnya (10 giga dari 60 giga), dan itu juga karena Bapak sering pake MindMap.. ^_^ v
    .
    Dengan adanya dukungan komunitas, beban kita setidaknya berkurang Pak. Mudah2an saya dalam waktu dekat ini, berhasil meluncurkan SI untuk manage buku pribadi, masih sederhana. Doalan sahaja.
    .
    @ prastowo
    Dengung-dengung tentang GOS dan family ( cuma beda ruang lingkup ya? Berarti saya PGOS = pramur goes open source? ) sudah sedjak djaman dahoeloe kala Pak? Saya menyambut baik soal adanya info.ugm.ac.id. Tapi, bisa disediakan untuk yang DVD version ga?(^_^) v
    .
    Kalo untuk pelatihan di lingkungan kampus (maksutnya mahasiswa) sebenarnya sudah ada KSL Pak, kita acaranya semacam Jemuah (acaranya KPLI Jogja) begitu, cuma sekedar kongkow-kongkow and sharing-sharing, tidak termetode, karena dari awal kita niatkan untuk komunitas, bukan untuk pelatihan. Cuma, sepertinya teman-teman ilkom masih terlena dengan kenyamanan dan keharaman (ini kata MUI loo... ) Need for Speed, Wind0$, dan sebangsanya....

    19-02-07 08:52
  • 2. prastowo

    Berikut ini ada wawancara lagi tentang UGOS, rupa-rupanya ada kesalahfaham tentang istilah UGOS.
    On Wed, 2007-01-31 at 21:03 -0800, indra wrote:

    > Apa latar belakang memunculkan UGOS?
    Saya kira ini ada kesalahah fahaman istilah. IGOS (UGOS) adalah istilah
    untuk program kegiatan migrasi dari penggunaan sistem software tertentu
    ke sistem Free and Open Source Software (FOSS). Dalam pelaksanaannya di
    pemerintahan (LIPI, BPPT) terdapat program kegiatan pembuatan sistem
    operasi dan aplikasi yang produk terakhir yang saya tahu diberi nama
    IGOS Nusantara.

    Dalam praktek, kegiatan "goes opensource" berarti mengganti penggunaan
    Microsoft Office dengan OpenOffice.org, Microsoft Windows dengan Linux,
    Adobe PhotoShop dengan Gimp, dan seterusnya. Lisensi penggunaan
    software-software pengganti tersebut bersifat Free and OpenSource.
    OpenSource dalam arti tersediaanya program sumber; Free berarti pengguna
    bebas untuk memperbaik, memodifikasi atau mengambangkan sistem yang
    digunakannya.

    Sistem Operasi Linux dan aplikasi-aplikasinya pada umumnya dikemas dalam
    paket distribusi yang sering dikenal dengan istilah distro. Saat ini
    bisa kita jumpai banyak distro di pasaran antara lain RedHat, SuSE,
    Mandriva, dan Ubuntu. Tiap-tiap distro mewakili komunitas pengguna
    sistem komputer tertentu. Sebagai contoh, komunitas komputasi sains
    menyukai SuSE karena dalam kemasannya banyak memuat paket-paket program
    pengolahan data sains. Komunitas ISP menyukai RedHat karena lebih kuat
    pada pengembangan software manajemen jaringan komputer. IGOS Nusantara
    memasuki "pasar" sebagai distro yang dikemas oleh BPPT-LIPI untuk
    memenuhi kebutuhan komputasi di pemerintahan.

    > Bagaimana proses merancang UGOS?
    Kegiatan UGOS, julukan kita untuk program UGM Goes Opensource, tidak
    memrogramkan pembuatan distro sendiri. UGM memutuskan untuk menggunakan
    distro Fedora Core untuk pengembangan dan Ubuntu untuk instalasi di
    PC di End User. Beberapa mahasiswa teknik elektro mengambangkan distro
    khusus untuk penyelenggaraan pendidika TIK di universitas dengan nama
    Kuliah (baca kuliax.ugm.ac.id).

    > Bagaimana cerita awalnya?
    UGUS dipicu oleh pemberlakuan undang-undang hak kekayaan intelektual.
    Pada dasarnya boleh dikatakan semua server sistem yang beroperasi di UGM
    menggunakan produk software opensource namun demikian hampir semua PC
    yang digunakan sivitas akademika dioperasikan dengan sistem Windows.
    Untuk mengawali program UGOS, UGM menandatangai kontrak Microsoft Campus
    Agreement (MSCA) yang merupakan legalisasi penggunaan sistem
    operasi Windows dan aplikai Microsoft Office di semua PC milik
    universitas. Dalam masa
    kontrak 3 tahun tersebut, Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan
    Komunikasi (PPTIK) UGM melakukan persiapan migrasi ke Opensource.

    > Siapa pencetusnya dan siapa saja yang terlibat?
    Pencetus UGOS adalah masyarakat pengguna Linux di lingkungan Kampus UGM;
    salah satu membernya saya sendiri. Di satu sisi, kami merasa pembiayaan
    MSCA terlalu mahal, di sisi lain ada keinginan untuk meningkatkan
    kemandirian bangsa melalui pemanfaatan sistem-sister berbasis
    Opensource.

    > Berapa lama waktu yang dibutuhkan?
    Pada waktu itu kami optimis dapat goes opensource dalam waktu 1 tahun
    dalam praktek, mengingat kegiatan ini menyangkut perubahan kebiasaan,
    kita perkirakan akan molor sampai 3 tahun.

    > Berapa pula biayanya?
    Karena UGOS tidak mengembangan sistem sendiri, menggunakan sistem yang,
    biaya terbesar ada pada training. Di UGM ada sekitar 2400 pegawai,
    diperkirakan setengahnya menggunakan komputer untuk bekerja.

    > Selama merancang UGOS, kesulitan apa saja yang ditemui?
    Kesulitan utama ada pada kompatibilitas sistem dengan peralatan
    perkomputeran baru seperti model-model mutakhir dari printer, scanner
    dan webcam.
    > Bagaimana pemecahannya?
    Selain mengusahakan driver-driver yang cocok, kami mengeluarkan daftar
    kompatibiltas hardware untuk dipakai sebagai pegangan teman-teman yang
    bertugas dalam pengadaan peralatan perkomputaran baru.

    > Adakah preseden OS lain yang dipakai dalam merancang UGOS?
    Karena UGOS menggunakan Fedora Core dan Ubuntu, keandalan ugos tersandar
    sepenuhnya pada distro-distro tersebut.

    > Jika ada, mengapa memilih OS itu sebagai acuan? Apakah UGOS
    > mampu melebihi kemampuan OS itu?
    > Apa keunggulan dan kelemahan UGOS? Kapan UGOS resmi dipakai?
    > Bagaimana penerapan UGOS di lingkungan UGM? Bagaimana
    > persiapan hardware, software, maupun tenaga ahlinya? Bagaimana
    > komentar pemakai?
    > Bagaimana kesanggupan UGOS untuk menyelesaikan
    > pekerjaan-pekerjaan Office, statistik, dan multimedia? Apa
    > syarat kemampuan komputer untuk dapat menggunakan UGOS?
    > Apa saja kelengkapan, fitur, kemampuan, dan fasilitas UGOS?
    > Di luar UGOS, bagaimana ulasan Bapak mengenai perkembangan OS
    > lokal? Apakah sudah mampu menggantikan Microsoft? Apakah
    > fasilitasnya mudah dipakai? Menurut Bapak, apa penyebab orang
    > sulit beralih dari Microsoft ke OS lain?
    pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tidak relevan karena masuk
    dalam masalah kesalahfahaman istilah ugos.
    >
    > Demikian pertanyaan kami. Untuk melengkapi tulisan ini kami mohon
    > untuk dikirimi bentuk tampilan UGOS dan foto serta profil singkat
    > Bapak Bambang Prastowo. Mohon maaf bila ada tutur yang kurang
    > berkenan. Terimakasih atas kerjasamanya.


    Profil saya bisa dilihat di http://prastowo.staff.ugm.ac.id dan
    http://pptik.ugm.ac.id

    >

    06-02-07 07:08
  • 1. seagate

    Saya pikir apa yang dilakukan PPTIK dengan menyediakan FOSS di info.ugm.ac.id sudah cukup bagus. Apalagi ada INHERENT. Mahasiswa jadi tidak kesulitan lagi kalau pengen download.
    Saya pribadi masih dual OS dan sekarang lebih sering pake Windows karena satu alasan:
    gagal menginstal xCHM di SUSE 10.0, padahal banyak ebook dan manual yang formatnya CHM. Jadi ya kalau coding di windows terus.
    meski demikian, saya masih berkomitmen untuk tidak memakai development tools ilegal. Dari Dev-C++, MinGW Developer Studio, MS Visual C++ Express Edition, JDK 1.5, NetBeans, Eclipse, Free Pascal, Apache, PHP, CakePHP, MySQL, PostgreSQL, dan Notepad++. Biarin deh yang lain pada pake Delphi, VB, SQL Server, atau Visual Studio ilegal.
    Selain Windows dan MS-Office, apa yang sulit saya tinggalkan adalah ebook bajakan yang mutunya jelas jauh di atas buku2 Indonesia

    01-02-07 01:16