Tidak semua harus lulus/naik kelas!

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Tidak semua harus lulus/naik kelas!

Date: 14-06-11 03:20
Ontran-ontran mempertanyakan kejujuran dalam menjalani ujian nasional berbalik arah kembali ke permasalahan opini buruknya kebijakan menggunakan nilai UN sebagai salah satu faktor penentu kelulusan. UN hanyalah salah satu bentuk dari Ujian Negara. Sejarah pendidikan di Indonesia diwarnai oleh banyak pakar yang membuahkan swing kebijakan penentuan kelulusan antara ekstrim ujian sekolah dan ekstrim ujian nasional dengan segala variasinya. Ingat NEM? Nilai Ebtanas Murni? Saya sendiri pernah terlibat dalam penerapan rumus rumit untuk kelulusan siswa dengan input nilai rapot semester satu dan semester dua tahun terakhir serta ujian sekolah dan ujian nasional. Parameter ditetapkan masing-masing sekolah sedemikian hingga semua lulus.

Menurut saya, tidak baik menggiring opini masyarakat untuk mendukung atau menentang kebijakan mekanisme tertentu. Biarlah mekanisme ini ditentukan dan diperdebatkan oleh para ahlinya, bukan oleh gelombang aksi masyarakat. Yang penting untuk dipahamkan pada masyarakat adalah bahwa keputusan tidak naik kelas atau tidak lulus ujian itu semata-mata untuk memberi kesempatan pada siswa mengulang proses pembelajaran yang belum tuntas membuahkan kompetensi yang diharapkan.

Biang permasalahannya bukan pada mekanisme ujian/penentuan kelulusan tapi pada keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa tidak naik kelas atau tidak lulus ujian adalah aib besar! Sedemikian besarnya hingga bersedia untuk mengambil resiko berlaku aib-aib yang sesungguhnya demi menutup aib tidak lulus.

Ada masanya dulu, sekolah berlomba-lomba meluluskan semua siswa dengan mekanisme katrol nilai. Mungkin bisa saja kita berargumentasi bahwa katrol nilai lebih terhormat dibanding nyontek massal, tapi ini hanyalah bentuk lain dari kecurangan massal yang terjadi di suatu institusi pendidikan. So, please jangan giring masyarakat untuk membuat gerakan politik menentang UN atau mekanisme evaluasi yang lain. Biarlah penetapan mekanisme itu tetap berada ditangan para pakar pendidikan. Buat gerakan kampanye kembali ke masa dimana naik kelas dan lulus ujian
adalah achievement dari siswa yang pantas mendapat hadiah sepeda baru.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 7429 di
  • 1. id card jogja

    terimakasih informasinya

    29-05-14 01:37