Bagaimana Scientist Berpikir tentang Kebenaran

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Bagaimana Scientist Berpikir tentang Kebenaran

Date: 21-11-11 08:20

Suatu hari saya berdiskusi dengan sahabat lama Jazi Eko Istiyanto tentang kejujuran dan keterbukaan para ilmuwan. Kami sepakat bahwa para ilmuan itu pada dasarnya mengimani kemutlakan berlakukan suatu sunatullah (hukum alam). Karena itu, mereka sangat antusias berlomba-lomba mengasah otak untuk mendapatkan rumus pendekatan terbaik pada sunatullah itu. Mereka membaca sunatullah dengan melakukan pengamatan baik secara langsung maupun melalui suatu eksperimen yang dirancang khusus.

Kata kuncinya adalah 'pendekatan.' Mereka tidak pernah sedikitpun berpikiran bahwa pendekatan yang dirumuskannya serta hasil eksperimen yang didapat itu merupakan kebenaran mutlak. Dalam banyak situasi mereka bahkan merumuskan pula batas domain berlakunya rumus yang dibuat serta tingkat presisi hasil eksperimennya. Pendefinisian domain keberlakuan rumus pendekatan serta tingkat presisi hasil eksperimen merupakan bukti kejujuran scientist mengakui ketidak sempurnaan hasil pemikirannya. Itu lah sebabnya scientist sangat iklas dan bersukacita kalau ada scientist lain yang bisa mendapatkan rumus pendekatan yang lebih baik (dalam arti memiliki domain keberlakuan yang lebih luas) terhadap kebenaran mutlak. Scientist sadar betul dengan jauhnya jarak rumusan pendekatan yang disusunnya serta hasil-hasil eksperimen yang dilakukan dengan kebenaran mutlak yang dikejarnya.

Rasanya, attitude pemahaman terhadap ayat-ayat kauniah seperti itu bagus juga diterapkan pada sikap pada pemahaman ayat-ayat qouliah. Dalam menyikapi ayat-ayat al Qur'an, kadang saya tidak bisa memisahkan rumusan pemahaman dengan teks ayat-ayat itu sendiri sehingga ketika ada orang lain yang mengemukakan rumusan pemahaman berbeda, sering terpikirkan orang itu salah dalam memahami ayat-ayat yang bersangkutan. Sebagaimana disampaikan banyak ustadz, kebenaran mutlak ada pada Allah. Kebenaran pemahaman manusia bertumpu relatif pada domain pemikiran masing-masing.

Berdasar diskusi dengan pak Jazi tersebut, sekarang saya mulai belajar untuk memisahkan kebenaran mutlak yang dikandung dalam teks al Qur'an dari rumusan pemahaman yang disampaikan para ulama. Dengan cara berpikir seperti ini, adanya perbedaan rumusan fikh yang kita warisi dari 4 madzab terasa sangat wajar. Tidak tertutup kemungkinan muncul rumusan fikh yang berbeda dari dari yang sudah kita kenal sebelumnya. Kita semua berlomba-lomba mendapatkan pemahaman yang semakin baik menuju kebenaran mutlak baik dengan memikirkannyan sendiri maupun saling update/belajar dari pemahaman satu sama lain. Semestinya kita bisa iklas dan bergembira dan siap menerima ketika suatu saat mendapatkan pencerahan pemahaman terhadap ayat-ayat al Qur'an yang bisa jadi berbeda dengan yang kita fahami selama ini namun lebih luas cakupan kesesuaiannya dengan pemahaman ayat-ayat lain (termasuk ayat-ayat qauniahnya).


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 6DB0 di
  • 1. AM. Juwono

    Pendapat yg sangat bagus. Setuju sekali Pak Pras. Itu juga membawa hikmah meningkatkan toleransi kita akan pendapat orang lain, dg keyakinan diri bhw pendapat kita adalah di antara yg terbaik.

    21-11-11 11:15