Fenomena Penyebaran Hoax

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Fenomena Penyebaran Hoax

Date: 22-08-14 03:36

Dalam koleksi hadith Muslim diriwayatkan Rasulullah pernah mengingatkan: "Cukup lah seseorang dikatakan sebagai pendusta manakala dia mengatakan semua yang didengarnya."

Sudah beberapa waktu ini saya merenungi apa yang mendorong banyak orang, bahkan yang bergelar doktor dan bertugas sebagai profesor sekali pun untuk memforward begitu saja pesan yang didapatnya dari Internet (fb, twitter, whatsapp, dll) ke orang lain tanpa upaya verifikasi kebenaran berita yang diforwardnya. Pada hal, etika akademik menekankan pentingnya mencantumkan sumber berita sejelas-jelasnya.

Saya mengamati ada 3 kelompok hoax dan perkiraan penyebabnya:

  1. berita sensasional: orang merasa penting ketika berhasil menjadi orang pertama yang mengetahui sesuatu hal di kelompok tertentu (group chat).
  2. berita penguat pandangan politik: segala berita diforward begitu saja asal punya nilai menguatkan 'kebenaran' pilihan politiknya
  3. pelengkap butir 1, merasa berbuat baik: orang merasa perlu menyebarkan berita yang dirasa punya nilai positif semacam ujar-ujar, resep obat-obatan tradisionil, bahaya mengkonsumsi produk tertentu dan semacamnya.

Perlu diteliti apa begitu masalahnya. Yang jelas, 14 abad silam, Rasulullah telah memberi peringatan keras bahwa kita akan terjerumus sebagai pendusta hanya karena meneruskan, tidak perlu sebagai pencetus, suatu berita yang ternyata hoax belaka.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik D28A di
  • 1. Jack

    Iya pak, kadang suka kesel kalau dapet pesan broadcast BBM atau yg lain soal berita-berita hoax begitu

    02-01-15 11:09