Semangat Berkorban

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Semangat Berkorban

Date: 31-12-06 09:10

Setiap kali mengikuti sholad Ied (Fitri atau Adha), panitia di Lapangan SMK2 (dahulu STM I/II) Yogyakarta selalu mengingatkan jamaah agar tidak meninggalkan sampah di lapangan. Sampai sholat Ied hari ini (31 Desember 2006), instruksi sederhana itu belum juga bisa difahami jamaah. Koran masih tertinggal berserakan. Instruksi sederhana lain untuk memenuhi soft yang lebih depan sebelum membentu soft baru (berlaku sebalik nya untuk jamaah perempuan) oleh sebagian jamaah masih dianggap angin lalu. Sangat boleh jadi jamaah masih bernostalgia pada masa saat banyak orang berkasta lebih rendah memperebutkan sampah itu. Pada waktu itu, meninggalkan sampah koran terasa seperti beramal sholeh pada pemulung. Sekarang zaman telah berubah. Sampah adalah sampah. Menjadi tugas kita bersama untuk membersihkannya. Sungguh memalukan bila kita memperlakukan panitia sebagai orang suruhan untuk membersihkan sampah kita.

Ketika terjadi gerimis kecil menjelang kutbah berakhir, sebagian cukup besar dari jamaah yang sebelumnya memang sudah berkurang, bergegas meninggalkan lapangan seolah terlepas dari beban berat kewajiban mendengarkan kutbah. Peringatan panitia bahwa mendengarkan kutbah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah sholat Ied nampaknya belum tersosialisasi secara merata.

Ketentuan mandi, wudhu, dan segala bentuk kesucian tempat ibada menjadi bukti bahwa Islam mengutamakan kebersihan. Saya punya hipotesa bahwa semangat tampil bersih bisa digunakan sebagai indikator seberapa serius kita mengikuti ketentuan agama. Menyadari hal ini, saya jadi malu melihat ruang kerja di kantor yang penuh dengan kertas sampah berserakan; rupa-rupanya saya belum serius betul menjalani kehidupan seorang muslim. Semoga Allah mengampuni dan memberi petunjuk serta kekuatan agar kita bisa lebih serius lagi melaksanakan perintah agama.


Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 0928 di