Mengimani Taqdir

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Mengimani Taqdir

Date: 02-03-16 05:09
Diawali dengan sharing berita tentang retaknya hasil soldir komponen elektronik sebagai penyebag kecelakaan pesawat, seharian group chat departemen berdiskusi tentang takdir. Singkat cerita saya mendapati ada 2 ekstrim pemahaman tentang taqdir yakni

Pertama, pemahaman bahwa perjalanan alam semesta termasuk perilaku umat manusia penghuninya adalah ibarat pemutaran film yang sudah diproduksi Allah sejak sebelum awal penciptaan. Pemahaman ini tidak masuk di akal saya karena tidak mendukung ajaran tentang surga dan neraka sebagai hadiah dan hukuman atas perilaku jin dan manusia.

Kedua, yang bisa masuk akal pemikiran saya adalah pemahaman bahwa Allah menciptakan jiwa-jiwa uniq berkehendak dan berkemampuan bebas berperilaku dalam batas kondisi fisik diri dan lingkungan alam mikro tubuh masing-masing manusia (dan jin) yang merupakan bagian dari alam semesta yang berjalan mengikuti sunatullah (hukum alam) yang dijanjikan Allah tidak akan berubah (karena itu science secar akulumatif bisa dipelajari) mulai penciptaan sampai akhir zaman.

Doa adalah jalur komunikasi manusia ke Allah. Karena Allah ada di luar sistem mahluqNya, maka doa kita langsung didengar Allah tanpa melalui sistem alam semesta. Allah menjawab doa dengan menurunkan menurunkan ilham ke masing-masing diri manusia sedikit demi sedikit. Secara kolektif manusia mengumpulkannya dan mengajarkan pada keturuannya melalui buku di kertas pasa zaman nabi; sekarang di media digital, ke depan entah bagaimana manusia akan menampung ilmu Allah.

Dengan membaca wahyu, warisan ilmu manusia terdahulu, sambil ber-tafakur (penelitian) kita berusaha download sedikit demi sedikit ilmu Allah yang tersimpan di Lauhul Mahfudz. Sambil berdoa mohon kesediaanNya menunjukkan/mengilhamkan pilihan jalan menuju kebaikan ke depan di dunia dan akhirat.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 120F di