Kebijakan energi tidak hanya masalah harga bensin

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Kebijakan energi tidak hanya masalah harga bensin

Date: 01-04-12 09:20
Saya ditanya mahasiswa untuk berpendapat tentang polemik harga BBM. Ini saya share jawaban sekenanya.

Kebijakan pemerintahan hanya bisa dibuat dan dan dinilai oleh mereka yang memiliki informasi lengkap tentang kondisi negara. Tanpa data lengkap, penilaian/komentar hanya bernilai sebatas konteks lingkungan penilai. Dalam pemahaman saya, maksimum yang bisa saya katakan adalah kebijakan apa pun akan mendapat nilai buruk bila nyata-nyata melanggar aturan agama (semisal mendanai olahraga dengan salah satu bentuk perjudian). Kebijakan akan dinilai baik bila semata-mata untuk mencegah kemudhorotan semisal hukuman denda bagi yang buang sampah sembarangan.

Kalau masalah harga itu pada dasarnya berasal dari matematika perdagangan biasa. Untuk energy, perhitungannya menjadi sangat rumit karena faktor yang harus diperhitungkan banyak termasuk kenyataan bahwa kita merasa sebagai produsen minyak. Karena produsen, maka seharusnya tidak perlu bayar mahal untuk mendapatkannya. Dengan faktor \'kepemilikan\' ini, penetapan harga tidak lagi murni perdagangan biasa. Karena itu, masalah kenaikan harga bensin bukan masalah setuju atau tidak setuju, tapi masalah seberapa akurat perhitungan sudah dilakukan. Kalau datanya valid, perhitungannya benar, tidak ada alasan menolak perubahan harga itu. Ini seperti keputusan orang tua untuk menetapkan uang saku, dan hadiah hari raya untuk anaknya. Faktor penentunya bisa kemana-mana seperti biaya sekolah, transportasi dan perlu tidaknya ikut ekstra kurikuler.

Ke depan, sudah banyak laporan ilmiah yang meyakinkan bahwa:

1. ketergantungan kita pada minyak bumi terlalu besar
2. konsumsi kita akan minyak bumi terlalu cepat

Kalau tidak dilakukan sesuatu, kita akan mengalami kesulitan dalam waktu dekat. Saya baru nonton video bagus di youtube berjudul HOME. Video bisa ditonton gratis dari http://www.goodplanet.org/. Kesimpulan saya, kalau tidak dilakukan perubahan, hanya mereka yang tega mengumpulkan kekayaan sendiri yang selamat ke depan karena:

1. bahan makan mahal (pertanian rumah kaca),
2. tempat tinggal mahal (AC) dan
3. air bersih juga mahal (harus melakukan penyulingan).

Mahalnya segala sesuatu karena tingginya energy yang diperlukan untuk menyelenggarakannya. Pada hal energy siap pakai (minyak) semakin langka. Kalau ditanya lalu ke depan kita harus seperti apa? Pastinya kurangi kegiatan yang bergantung pada kebutuhan energi dan air yang tinggi.

1. Kalau singkong lebih hemat air dan energy dibanding beras, biasakan makan singkong. Budidaya ikan mungkin pakai air cukup banyak, tapi konsumsi (dihabiskan) air/kg daginya bisa jadi jauh lebih rendah dari daging sapi.
2. Tumbuhkan aktivitas lokal untuk memastikan mobilitas manusia ada dalam jarak tempuh sepeda untuk mengurangi transportasi sarat energi.
3. Gunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk aktivitas kerja sehari-hari. Dalam bayangan saya, konsumsi energi teknologi komunikasi jauh lebih kecil dibanding transportasi.

Yang terakhir ini nasehat politik dari orang yang punya kepentingan pada pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Yang penting, kumpulkan dulu data-datanya sehingga kita bisa membuat rencana yang baik. Baik dalam arti memberi hasil yang baik dan bisa dilaksanakan dengan cara yang baik.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 9010 di