Menghadapi Matinya Perguruan Tinggi Tradisionil

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Menghadapi Matinya Perguruan Tinggi Tradisionil

Date: 01-09-21 06:50
Tulisan berikut ini terkait status mas Imam Imam B Prasodjo di Facebook seputar masa depan perguruan tinggi pasca pandemi.

Dulu belanja on-line diremehkan dengan kecilnya prosentase omzet dibanding toko tradisionil. Olshop ternyata bisa berkembang. Banyak toko di mall beralih fungsi menjadi tempat rekreasi kuliner (sayang, saat ini terpuruk juga karena pandemi).

Apakah sekolah/kuliah on-line itu bakal menggusur sekolah tradisional? Prediksi saya tinggal tunggu waktu. Regulasi pendidikan nasional akan segera menyesuaikan.

Salah satu kegiatan sekolah/kuliah yang diperkirakan tidak bisa dion-linekan adalah kegiatan mata-mata kuliah praktikum yang memerlukan aktivitas pegang langsung alat-alat praktikum.

Ternyata, dengan paksaan situasi pandemi, teman-teman pengelola kegiatan praktikum tertentu sudah berinovasi dengan sistem praktikum fisik (bukan simulasi) yang bisa dioperasikan (dipegang langsung) dari jauh lewat sistem remote control.

Sangat boleh jadi, aktivitas praktikum akan dilakukan mandiri juga dengan mendistribusikan kit praktikum mandiri. Tantangan buat perancang praktikum untuk memindahkan kegiatan ke luar lab dengan kit yang portable dan murah.

Yang perlu kita persiapkan adalah mencari ide-ide innovatif untuk memanfaatkan ruang-ruang mall, sekolah, kampus yang menjadi sepi karena kegiatan kuliah bergeser ke on-line.

Yang sudah tampak bentuk barunya adalah mall dari sekumpulan toko tempat orang "shopping" menjadi arena "hang out" kuliner dan entertainment.

Akan kita manfaatkan untuk apa ruang-ruang kuliah yang tidak lagi terpakai itu?

Selain menganggurnya ruang kuliah, kerja dosen juga berkurang. Suatu saat, indikator nilai akreditasi ratio dosen-mahasiswa tidak relevan lagi. Artinya, jumlah kebutuhan dosen pengajar akan sangat berkurang.

Dulu pembelajaran mata-mata kuliah wajib atau pilihan favorit harus dipecah dalam beberapa kelas paralell, perlu ekstra dosen. Sekarang dengan sistem dari, kelas-kelas paralel bisa disatukan kembali ditambah peserta yang mendaftar dari luar kampus. Cukup mengadakan sejumlah asisten saja.

Kemana kita salurkan sisa jam kerja para dosen? Menyeriusi penelitian? Pengabdian pada masyarakat? Kerja di Industri? Founding start up?

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 9471 di