Mosok sih kita perlu kembali ke Orde Baru atau malah jadi Golput?

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Mosok sih kita perlu kembali ke Orde Baru atau malah jadi Golput?

Date: 22-05-11 10:42
Belakangan ini banyak bermunculan berita/komentar yang mengungkapkan kekecewaan atas kebijakan, kegiatan dan kinerja pemerintah baik pusat maupun daerah di Indonesia. Ada dua sikap terhadap kekecewaan itu yang menarik perhatian saya:
1. keinginan kembali ke zaman orde baru,
2. keputusan untuk golput pada pemilihan-pemilihan umum selanjutnya.
Keinginan kembali ke zaman orde baru didasar pada perbandingan harga beras (sembako), sedangkan keputusan golput didasari pada buruknya kinerja pimpinan/anggota parlemen hasil pemilu yang telah lewat.

Saya katakan menarik karena penyikapan ini keliru dan perlu diluruskan. Pertama Zaman orde baru tidak bisa kita jalani lagi karena waktu itu APBN lebih banyak didanai oleh hutang dibanding produk sendiri. Kalau hutang terus, tentu lah ada ledakan kewajiban bayar hutang, dan itu sudah terjadi dengan segala masalah BLBI dsb. Jumlah penduduk sekarang dan segala kebutuhannya tentu lah jauh diatas zaman orde baru. Untuk kembali ke zaman itu, terlalu banyak yang harus 'dibunuh.'

Kedua, kemenangan pemilih golput pada pemilu di masa-masa lalu dibanding perolehan suara partai sebenarnya merupakan kekalahan para golput itu sendiri (diasumsikan isinya orang-orang yang tidak mau dikotori urusan politik) karena pemerintahan dimenangkan oleh mereka yang berada di luar lingkar bersih alias orang-orang kotor. Oleh karena itu, kalau pemerintahan sekarang dianggap kotor, para kaum golput di masa lalu harus ikut memberikan suaranya. Pertanyaanya adalah: kita tidak kenal satu pun yang terpampang di pilihan. Di sini lah warga negara dituntuk untuk mengorbankan sedikit waktu untuk membuat penelitian terhadap partai-partai yang maju ke pemilu. Kalau pun semua dianggap kotor, cari yang paling sedikit kotorannya. Jangan biarkan partai terkotor yang memangkan pemilu.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 6E55 di
  • 2. prastowo

    Waktu jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat besar, mereka yang menyuarakan golput merasa menang. Pada hal hakekatnya mereka kalah telak marena negeri ini kemudian dipimpin oleh golongan yang tidak mengusung kepentingan mereka.

    22-05-11 06:48
  • 1. AM Juwono

    Ya. Setuju sekali. Kalau boleh nambahi, orang yg ingin kembali ke order baru adalah para pemimpi. Mereka tidak sadar bahwa karakteristik korup dan amburadul berasal dari era order baru, yang tidak terkikis dalam masa reformasi sekalipun. Korupsi jalan terus dan jalan terus...

    22-05-11 05:05