Susahnya memaafkan

Bambang Nurcahyo Prastowo

Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM

Mail: prastowo@ugm.ac.id * Web: http://prastowo.staff.ugm.ac.id
Mobile: +62 811-2514-837 * CV singkat

Susahnya memaafkan

Date: 27-01-08 09:17
Pada saat marak pemberitaan Suharto sakit, istri saya sempat bertanya ke saya: \"Apakah bapak ada rasa dendam pada mantan presiden Suharto?\" Terus terang saya tidak bisa menjawab tegas. Dendam itu tidak baik. Ternyata saya juga tidak bisa menjawab tegas ketika dia melanjutkan pertanyaan dengan: \"Apakah bapak memaafkan Suharto?\"

Konteks pertanyaan ini berkaitan dengan kenyataan bahwa ayah saya dulu menjadi tahanan politik selama 5 tahun dan dibebaskan begitu saja dengan surat keterangan: \"Tidak dapat dibuktikan kesalahannya.\" Suatu kejadian yang memporakpondakan cita-cita keluarga. Tidak akan ada yang berani memperkerjakan bekas tahanan politik. Anak-anak banting setir masuk sekolah kejuruan agar segera bisa bekerja. Saya beruntung karena kakak-kakak bisa membantu biaya sehingga bisa masuk dan lulus perguruan tinggi. Keluarga kami tidak pernah protes karena takut. Saking takutnya dengan birokrasi pemerintahan, sampai sekarang pun saya masih merasa tidak nyaman ketika harus berhubungan dengan RT, RW, Lurah, dan Camat (semisal mengurus perpanjangan KTP). Selain takut, kami juga merasa tidak pantas protes karena banyak keluarga lain yang lebih sengsara.

Sekarang Pak Harto sudah meninggal. Pertanyaan apakah saya sudah memaafkannya belum terjawab tegas. Apabila saya menemukan ketentuan Islam yang mewajibkan memberi maaf sesama muslim yang telah meninggal, insya Allah saya berikan maaf itu. Mungkin saja saat ini sudah memaafkannya; tapi saya belum yakin betul.

Cukup lah bisa dikatakan sebagai pendusta, seseorang yang mengatakan semua yang didengarnya (h.r. Muslim)

Kirim Komentar

Nama:
Website:

Ketik 267C di
  • 3. mamank

    sekalipun orang paling sempurna di dunia ini, pasti punya salah. karena itu adalah bayangan hidup setipa insan. kita tak akan lepas dari itu. Tuhan saja maha memaafkan, apakah kita sebagai makhluknya tidak bisa??? sungguh terlalu jika sampai begitu.
    terima kasih

    09-03-08 01:27
  • 2. Eko SW

    Saya jadi ingat, beberapa bulan sebelum meninggal, saya mimpi melihat Pak Harto.

    Beliau mengenakan baju sederhana sekali, kemudian saya lihat Beliau bersimpuh di dalam pendopo. Pendopo tersebut berundak-undak dengan beberapa anak tangga.

    Beliau menatap saya sambil tersenyum. Dan, saya melihat banyak ada batangan padi dalam ikatan-ikatan yang disandarkan di undak-undak tangga tersebut. Sepertinya saya hanya melihat batang-batang padi yang diikat tersebut, tanpa melihat orang yang meletakkannya.

    Semoga itu pertanda Beliau diberi nikmat kubur di sisi Allah SWT. dan juga pertanda kebaikan bagi saya.

    Ada yg tahu takwilnya?

    Nuhun,
    Eko SW


    • Dan jg nikmat kubur yg lebih baik lagi bagi ayah Pak Pras ^_^ (sudah sedo kan Pak?). Kalau belum, maaf... ^_^

    31-01-08 01:46
  • 1. Eko SW

    Wah, seperti itu ya Pak? Turut simpati.

    Saya yakin sebagai pemimpin (ini karena saya melihat dari sudut pandang orang ke-3), tidak akan bs mengakomodasi semua yang diinginkan rakyat bawahannya. Bagaimanapun kerasnya perjuangannya.

    Khalifah2 awal Islam saja berakhir tragis. Itu kalau dirunut2, ya karena sang pemimpin tak mampu memenuhi semua yang diinginkan bawahannya.

    Saya yakin memaafkan memang tak mudah. Karena itu sistem kehidupan yg diciptakan Allah SWT ini mengenal apa yang disebut Pembalasan di Hari Akhir. Kalau tidak di balas, maka orang-orang yang dizalimi pasti tidak akan bisa bahagia (seperti Pak Pras yg tak akan bahagia kalau Pak Harto tidak diberi hukuman, atau amal kebaikannya diberikan ke Pak Pras, sbg ganti kezaliman yg dilakukannya).

    Hanya, di Hari Akhir nanti Allah SWT akan menurunkan 99 Rahmat-Nya. Nah, dengan itu saja kita mengharapkan semua kebahagiaan dan ampunan nanti.

    Oya, juga nanti meski kita punya dendam di dada, pada akhirnya semua akan masuk surga dengan dendam itu dihapuskan terlebih dahulu.

    Nah, malah jangan2 nanti Pak Pras dan Pak Harto salam2an di Pintu Surga terlebih dahulu, sebelum memasuki gerbang surga yang sama.


    ^_^

    Itu kenyataan hidup.

    Nuhun,
    Eko SW

    31-01-08 01:40